Tuesday, May 09, 2006

MEMBIDIK KELAMIN

udara siang ini panas, sayang..
sudah jam 3 siang dan pagi hari ini telah jadi kelaluan..
orang-orang masih berbondongan mengitari bundaran hotel indonesia..
yang lain masih mengantri bayar belanjaan di dalam plaza..
masih dengan yang mengerti, salah mengerti dan tidak mengerti juga..
belum lagi yang tak mau mengerti..
(memangnya ada yang harus mereka mengerti?)

mata-mata itu nyalang, sayang..
mengantarkan perjuangan yang rasanya seperti sampah sia-sia..
apa gunanya ribuan dan ribuan duku dibanding setruk duren montong..
ditambah bertruk-truk duren montok..
toh, negeri ini adalah negeri ajaib..
yang ada menjadi tiada.. seperti tiada menjadi ada..
(perbandingan yang tak pantas ya? Mau gimana lagi.. emang begitu nyatanya..)

kita beruntung, sayang..
saat kelamin manusia jadi milik bersama..
berjubahkan nilai, norma, agama..
bukan kah hanya di negeri ini saja kita bisa berpura-pura menjadi raja..
bukankah hanya disini kita diwajibkan untuk lanjutkan hobi kita..
memperkosa dan membunuh manusia..
(apapun itu.. namanya juga legenda..)

mengapa berhenti, sayang..
meludahi pikiran-pikiran yang selalu mampu kita selangkangi..
toh, kelamin-kelamin itu milik bangsa..
artinya boleh kita robek-robek bersama pula..
toh, mereka hanya binatang-binatang ganas..
yang rela jadi mainan buruan kita..
(biarkan jubah dan jilbab itu tetap bersih disana.. menontoni kita..)

angin sore ini kering, sayang..
sudah jam 5 sore dan siang hari ini telah jadi kelaluan baru..
orang-orang masih berbondong mengitari bundaran yang semakin membiru..
yang lain masih menghitung total harga sepatu..
penuh dengan yang bermimpi, salah mimpi dan tidak bermimpi..
belum lagi yang tak punya mimpi..
(memangnya masih ada mimpi?)

(22 April 2006: bangsaku sedang membidik kelamin..)