Monday, June 12, 2006

BAHAN POKOK KE SEPULUH PASCA BENCANA YOGYAKARTA-JAWA TENGAH

(juga untuk Aceh dan Nias, serta tempat-tempat lain di Indonesia)

Jakarta (9/6) - Bencana gempa yang terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah baru-baru ini (27/5) masih menyisakan kerusakan di berbagai lokasi. Ditambah lagi dengan hujan debu dan hawa panas pada kisaran jarak 10 km dari puncak Gunung Merapi yang meletus kemarin (8/6) menjelang tengah hari. Bagai masih belum cukup, kericuhan yang alamiah ini masih harus ditingkahi dengan beredarnya berbagai isu yang (seakan) mempermainkan ketakutan korban bencana yang masih pada kondisi trauma, entah sengaja atau tidak.

Setelah mengalami hambatan komunikasi yang berselang 2 hari dari tanggal bencana, seorang teman, satu dari ribuan korban gempa, menghubungi saya langsung dari Yogyakarta dan menyatakan betapa masyarakat kini juga membutuhkan banyak radio batere. Dengan kata lain, dia merinci kebutuhan-kebutuhan pokok para korban bencana dan menyertakan radio batere sebagai bagian dari kebutuhan pokok tersebut. Apa sebab?

Kerobohan-kerobohan yang terjadi telah turut merusak kebanyakan alat informasi dan telekomunikasi, seperti TV dan radio. Listrik pun menjadi barang langka. Dalam kondisi demikian dimana akses informasi menjadi sangat minim, hadirnya satu dua informasi dapat menyebabkan kegemparan-kegemparan kecil. Informasi yang �bukan informasi� karena belum jelas dan tidak dapat dipertanggungjawabkan isi dan sumbernya (dengan kata lain: isu) menambah rasa tidak aman masyarakat yang telah jatuh, tertimpa tangga pula.

Tak pelak, radio batere yang tadinya terlupakan, menjadi satu lini dengan sembako bagi para korban bencana Yogyakarta dan Jawa Tengah. �Banyak orang kehilangan tempat tinggal. Lapar, haus, kedinginan,����dan membutuhkan informasi,� demikian pesan yang ia tuliskan lewat SMS. Secara logika saya mahfum, bagaimana cara orang bisa makan atau minum bila setiap saat �ada yang menyuruh berlari�.

Kabar terakhir, supply radio batere yang tadinya tidak dianggap penting itu sudah mulai berdatangan, akhirnya. Tinggal masalah lain: masalah isu tadi.

Yang terpetik dalam benak saya bukanlah radio bencana dalam artian membangun lembaga penyiaran baru, melainkan suatu tim kerja informasi bencana yang bekerja sama dengan lembaga-lembaga penyiaran lokal untuk memberi informasi seputar bencana. Outsources untuk tim kerja serupa ini sebenarnya sudah ada, tinggal dikoordinasi dan direstui. Kata kuncinya adalah: satu sumber, bisa dipertanggungjawabkan, dan terkini (up-to-date). Suatu paket informasi akan kondisi lapangan, nama dan angka korban, lokasi korban yang belum terjangkau, dan informasi-informasi bencana lainnya yang sesuai dengan yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia umumnya, dan para korban bencana pada khususnya, yang dipancarluaskan secara langsung oleh lembaga-lembaga penyiaran lokal secara bersamaan pada titik-titik waktu yang fleksibel, terutama pada kondisi darurat. Yang pasti bukan isu!

Lalu, siapa saja yang mengisi tim-kerja ini? Semua elemen masyarat yang terkait dengan tema besarnya, yaitu informasi bencana, plus juga yang memiliki kepedulian tinggi, mau kerja keras, dan berintegritas (kalau saya sebut �bernurani�, nanti akan banyak yang merasa dihakimi, atau malah dipanggil namanya).

Tulisan diatas mungkin lebih seperti wacana ketimbang berita. Seperti sekedar mendongengkan betapa informasi adalah juga kebutuhan pokok yang wajib diberikan secara tepat dan benar, sekaligus juga menjadi hak setiap orang tanpa kecuali. Atau, anggaplah tulisan ini hanya sounding. Toh, suara-suara sejenis telah banyak saling bersahutan sebelum hari ini, bahkan sebelum gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah terjadi. Yang terpenting kini adalah realisasi dari ide-ide serupa. Menyiapkan diri dalam kondisi darurat yang bisa terjadi kapan saja, dimana saja, dan pada siapa saja. Realisasi yang dapat berfungsi dengan baik dan nyata. Ini yang belum dijalankan!

Para korban bencana alam di Indonesia, baik yang di Yogyakarta dan Jawa Tengah, Aceh dan Nias, dan daerah-daerah lainnya, bukan saja tanggung jawab orang-orang yang peduli. Utamanya, ini adalah tanggung jawab setiap orang yang mengaku bahwa Indonesia adalah nama bangsanya.

Atau, mungkinkah gempa dan tsunami di Aceh dan Nias masih belum mampu membangunkan sebagian yang masih terlelap akan rasa suatu bangsa yang bernama Indonesia?


@na

(jakarta 2006: tok.. tok..)