Wednesday, September 20, 2006

BILA JUMPA..

bila ada masa kita berjumpa, tuanku..
apakah ucap yang adik sedia dalam tulus sembah di dahiku?
apakah cerita mengisah indah..
nan membalut bohong dan tipu yang dihindar dari sadar tuanku?
ataukah kasih mengisak tulus..
demi mimpi dan ilusi idealisme yang diruntuhkan dari tahta tuanku?

bila ada masa kita mengenang, tuanku..
apakah sempat tuanku usap luka yang terlanjur mengering..
bekasnya pun tak lagi terusap..
adik pintar sembuhkan luka..
tapi tak cerdas hilangkan sakit..

ataukah tuanku..
akan menjelma sama dengan pencoleng-pencoleng itu?
setelah pinangan tuanku adik terima..
dan adik ucap: adik sedia jadi istrimu.. seputar matahari lalu?
padahal tiada ada kita bertemu..
hanya warna milik tuanku..
nama cinta di penantianku..

entah mawarkah itu atau hanya gambaran anak-anak..
entah senjakah itu atau hanya kabutan duka..
entah menangkah itu atau hanya bendera tercelup darah..

apalah adik tanpa kata..
apalah kata tanpa makna..
apalah makna tanpa seru..
apalah seru tanpa tuanku bertahta..

duh, tuanku..
perang ini melelahkan hati..
melebamkan akal..
tubuh boleh terkoyak..
jiwa tetap menggantang cahaya..

dan dalam tiap doa adik..
berenang-renang dalam danau lugu tak tahu..
tiada lepas adik nafaskan: andai tuanku di sini..

(Jakarta 2006: di sini pun di sana, bangkai-bangkai itu masih ada.. para tentera bangsa memang belum menang tuanku VM, tapi kita juga bukan kelompok orang-orang kalah: para penjual najis, diri mereka sendiri..)