Friday, September 22, 2006

BUKAN POLITIK

KETIDAKADILAN ITU OTOMATIS! KEADILAN MESTI DIJUANGKAN!

Yel-yel ini masih lekat dalam ingatan teman-teman yang masih berkeras berjuang walau tak lagi berjaket kuning. Seperti juga pekatnya kenangan akan ‘buku-pesta-cinta’ di bawah rindang pepohonan antara balairung dan danau. Betapa tidak, dalam tubuh muda yang belum masuk pada tahap ‘pasca-lulus jadi sarjana’, idealisme kita memang sedang deras-derasnya. Yang kita lihat hanya warna hitam dan putih dalam lukisan lugu kita yang naif.

Dalam masa yang lebih terkini, ada seorang yang pernah katakan: “Indonesia ini negeri ajaib. Apa yang ada boleh jadi tiada. Apa yang tiada boleh jadi apa. Yang ada tak terlihat ada. Yang tak ada seenaknya saja mengada-ada”. Duh, apakah ini? Suatu celaan akan ‘hilangnya’ Indonesia? Ataukah ungkapan kecewa yang dipaket berupa sindiran. Pun pula, siapa akan dengar? Siapa kan peduli?

Dalam kehidupan publik Indonesia, ada virus yang telah lama disuntikkan ke nadi sistem kehidupan kita. Virus yang menciptakan suatu demam ”yang banyak muncul di TV-TV dan berbicara tentang nilai-nilai kebajikan dan idealisme -apapun itu- seraya dibumbui dengan rasa ‘anti pemerintah’, maka orang itu adalah yang pro-rakyat”. Benarkah demikian? Telinga dan mata memang pintu masuk rayuan pulau kelapa yang paling mudah dijinakkan. Padahal tak lah demikian adanya. Mungkin ini bisa jadi alternatif jawaban dari tanya: mengapa negeri ini jatuh, bangun, dan jatuh lagi dalam kubangan yang sama?

Tak pelak, goresan abad-abad penjajahan (ekonomi) Belanda dan penjajahan-penjajahan singkat lainnya dalam sejarah Indonesia telah pula mewarisi suatu warna yang mentradisi secara turun temurun. Bangsa ini memang sangat mudah mengotak-kotakan segala sesuatu tanpa menilik hal-hal lain yang lebih esensial. Ada kotak ‘Soeharto’, kotak ‘Anti-Soeharto’, kotak ‘pribumi’, kotak non-pribumi’. Bandingkanlah, kotak ‘Belanda’, kotak ‘yang berani lawan Belanda’. Padahal tak semua Belanda itu bermental penjajah.

Ingatkah masa reformasi dulu? Bergantian-gantian sosok heroic muncul ke permukaan khayal bangsa ini tapi akhirnya adalah sama. Kekecewaan. Mengapa? Bisa jadi karena virus yang tadi itu. Kehadiran wajah-wajah yang pekat bedak dan tebal gincu demi menutupi bopeng dan cacat dari niat baik miliknya sendiri. Apakah sosok-sosok itu hanya memanfaatkan public semata hanya demi ‘sepotong kue kuasa’? Saya tak tahu. Kehadiran wajah-wajah cantik penuh kosmetik ini jadi rancu dengan wajah-wajah yang memang molek. Tak lagi jelas memang yang mana pencoleng, yang mana pula pejuang sungguhan. Ini masih kosmetik saja, bagaimana dengan kemasannya sendiri yang diberi pita warna-warni dengan merah putih di ikatannya? Apapun isinya. Entah ikan teri, bangkai, najis, ataukah emas berlian yang aduhai. (Note: Apakah emas berlian masih perlu kemasan? Iya kali ya..).

Mungkin mesti ada virus tandingan: yang banyak muncul di TV-TV dan berbicara tentang nilai-nilai kebajikan dan idealisme -apapun itu- seraya dibumbui dengan rasa ‘anti pemerintah’, sembari menunjuk diri sendiri dan segala hal yg mengikutinya adalah pro-penipu-rakyat. Ehm, benarkah?

Dalam memilih pemimpin-pemimpin negeri memanglah tak semudah memilih tomat di pasar. Seperti juga bukan perkara mudah dalam membina Negara yang sehat. Ini lebih dari segala gelar (sekarang bahkan bias ditukar tambah seenak udel), intelektualitas, kemampuan manajemen, maupun kemahiran public speaking. Ada integritas dan niat baik (bahasa kerennya: goodwill) yang juga penting. Ironisnya, Justru ini yang melangka.

Salahkah ujar saya, yang berdasarkan kesaksian pribadi, bahwa kehidupan politik Indonesia kini penuh kecurangan-kecurangan, dimana publik hanya dijadikan kendaraan mencapai kepentingan-kepentingan yang jauh dari rasa keberpihakan terhadap rakyat. Bila memakai bahasa lidah saya yang terkadang kering ludah, saya sebut ini bukan politik yang terjadi di Indonesia saat ini. Yang kebanyakan terjadi adalah simbiosa kedunguan: hubungan saling menguntungkan antara dungu tipe 1 dan dungu tipe 2. (Ups, saya teringat lagi ujar kawan: arogansi itu hanya buat yang cerdas jadi sontak dungu!).

Bagaimana dengan publik? Apakah simbiosa yang jadi komedi slapstick konyol ini memberi mereka peluang untuk memenuhi hidup sehari-hari? Publik kita bukan publik ala kanak-kanak yang merengek di pintu toko minta dibelikan mainan. Publik kita adalah suatu sistem rangkaian budaya, ras, dan agama yang cukup cerdas untuk peduli akan negerinya. Hanya saja mereka sedang lapar, karena 'para penduduk kursi panas' lebih sibuk saling mengipasi pantat.

Saya tahu, tak semua pemimpin negeri ini demikian. Senoda warna di hamparan kain hitam bisa jadi harapan walau tak kentara mata. Dan para tentara bangsa, ini masa mesti gerak. Yang takut mati, silahkan minggir!

(Jakarta 2006: kiriman dari dinding_api, juga untuk tuanku VM: duri-duri yang buat sakitmu dulu sedang tercerabut. Cepatlah pulang, tuanku..)