Thursday, November 16, 2006

PENJARA TERPENJARA

Matahari tak sabar menyiarkan terik. Awan belum lagi selesai mengemas rintik-rintik hujan. Lewat celah lengah, Pelangi bergegas. Dalam selibat angin, di sisi Mawar bersolek pada telaga..


"Wahai, Mawar..
Beri aku mantra penghilang letih..
Dalam setiap tarikan nafas..
Bulir-bulir jenuh meretas..
Beranjak besar hanya jadi kuap kantuk..
Yang berkejaran saling merebut..
Tetumpahan cat warna milikku..

Nasibku sungguh tak bertuah..
Dalam penjara awan..
Lihatlah kini dia sedang kelimpungan..
Mencari aku di sela rimbun kabutnya sendiri..

Dan matahari..
Tak ada yang dia lakukan..
Selain hanya berdiam diri di sana..
Aku muak dengan bisunya..

Biar..
Akan aku tumpahkan semua cat warna-warni ini..
Samudera akan aku buat merah..
Gunung aku lapisi ungu..
Dan aku akan campurkan semua warna untukmu..

Menjadi kelabu.."

"Wahai, Pelangi..
Lama sudah kau tak menandangi..
Inikah buah tanganmu setelah sela dan jeda?
Serapahmu tentang Penjara Awan?

Tumpahkan saja semua warna itu bila kau mau..
Hingga hanya gelap yang terlihat..
Dan semua tangan hanya akan saling menggapai sia-sia..
Merindukan cahaya..

Belumkah kau pahami juga?
Penjara Awan itu..
Adalah tebusan yang harus dibayar Matahari..
Karena warna-warnamu liar..
Merajahi tiap lekuk Bumi..

Dibalik sana kau aman..
Di sini kau hanya akan tercerabik..
Kemurkaan amarah masa yang cemburu..
Setiap kusir waktu terpukau..
Dan semua membeku..

Maka bila hanya serapah..
Tinggalkan saja aku sendiri..
Menyiapkan mantera pesona harum meruah..

Karena seperti pula Penjara Awan..
Aku pun Penjara Duri bercandu..
Jamuan malam terakhir..
Demi sesiapa pun.."

Matahari gundah mencari hangat. Awan menyerak lagi ruas-ruas hujan. Dalam titian kelabu, jejakan warna mengeja langkah. Semalas cipak telaga, pelangi meringkuk sembunyi.. di sisi bulir-bulir jenuh yang baru meretas lagi..


(Jakarta 2006: penjara yang terpenjara..)