Aku penat�
Aku rindu belaian kekasih�
Dalam seretan langkah�
Tiap helai penutup aurat terlepas� jatuh�
Hingga tiada lagi selembar pun�
Jelang aku�
Ini aku datang�
Aku menapaki titian�
Datanglah� biar kucumbui engkau, Kasih�
Sucikan aku�
Buat aku bergeletar�
Air sejuk meraih kakiku. Bening.
Dalam jejak aliran sungai dari puncak gunung, kumpulan mata air-mata air kemurnian. Menyatu dalam harmoni...
Alirannya mengukir kelokan. Menghanyutkan.
Damaikan jiwaku, Kasih�
Satu langkah lagi dan kakiku terbenam dalam bening. Rasa sejuk merayapi tubuh hingga ubun-ubun� hingga sumsum tulang�
Sungai� aliran hidup� pinggirannya adalah ranjang pengantinku�
Tempat kekasih merengkuh�
Kubenamkan tubuh lebih dalam. Sulur-sulur tangan kekasih merayapiku�
Aku terlena� terpejam�
Hijau dedaunan menudungi bagai tirai yang nmenutup ranjang peraduanku dan kekasihku� bunga-bunga sungai menebar aroma� dan rerumputan liar menutup celah intipan jasad�
Air di pinggiran sungai. Kemurnian yang menggelegak rasa�
Dia berujar,�
Berbaringlah kasih. Rebahkan kepalamu di pundakku... biar kubelai lembut rambutmu, wajahmu, tubuhmu...
Pasrahkanlah Kasih. Biarkan tubuhmu merontakan gelora... lepaskan semua kesadaranmu...
Jasadmu, Kasih... menyatulah dengan jasadku...
Ini aku terbaring...
Tak kau lihatkah kepasrahan?
Rontaan itu membiarkan sentuhan...
Mataku terpejam... tapi aku terjaga...
Tubuhku mengejang... tapi aku terlena...
Dan dia berujar,
Ingatkah kau kasih... saat pertama ku persembahkan kemurnianku...
Saat itu aku semakin murni...
Ya, aku ingat� setiap detiknya�
Ingatkah kau , kasih� saat pertama ku persembahkan kesucianku�
Saat itu aku semakin suci�
Ranjang pengantin saksi kemurnian�
Kesucian�
Dalam dirimu mustika�
Kaulah mustikaku, Kasih�
Biar ku kecup bibir yang bergetar�
Hentikan kata-kata bersuara�
Mampukah bibir membendung kata-kata yang tak bersuara?
Suara bisuku lebih menggelegar�
Dan aku terpanggil kembali kepadamu�
Gemuruh itu gemercik geloraku�
Deburan keajaiban yang tersembunyi�
Dan aku meregang� sulur-sulurmu merayapiku�
Menyelusup lebih dalam� gapai aku�
Kasih�
Suara-suara� gemuruh� alam terguncang�
Hening� bisu... alam terhentikan�
Mata kekasihku menembus palungku yang terdalam...
Aku terhisab badainya...
Bibirnya melumat... meniup nafas kehidupan...
Hingga ku tersedak...
Sulur-sulur bening membelaiku�
Meremas�
Mengikat�
Aku terbelit� meregang� menggeliat�
Aku takut, kasih� belitan ini akan menenggelamkanku�
Menyeretku dalam derasnya...
Dan kekasihku berujar lirih,...
Aku lah yang telah terbelit... terseret geloraku sendiri...
Setiap kau datang bagai badai...
Aku terhanyut...
Lihatlah aku terhempas... terbanting keras...
Tapi aku tetap hidup...
Karena aku pasrah padamu...
Ajari aku, kasih... sekali ini seperti waktu dulu...
Sekali lagi nanti... kelak...
Bimbing aku, kasih... tenggelamkan aku dalam seretan gelora itu...
Dia bergemuruh...
Ya...
Alam menutup mata... menulikan telinga... ngeri...
Air di pinggiran sungai... kekasihku� pengantinku�
Desahan bagai badai�
Aku mengerang�
Aku kesakitan...
Setitik luka tergores...
Dia berujar...
Telah termeteraikan kemurnianku dalammu...
Kesucianmu tempatku...
Aku terdiam dalam jeritan... tolong aku...
Jasadmu dan jasadku tak cukup besar untuk menampung bendungan nikmat...
Tidak cukup luas untuk aku dan kamu bergulingan melepas rindu...
Sakit itu fatamorgana, kasih...
Seperti batas cakrawala... penjara kita...
Biarkan... kita memang harus membayar harga...
Lalu kekasihku melenguh�
Dan terhempas� terbanting keras�
Dan aku terbaring� lemas� bergetar�
Lalu sepi� hening�
Suara-suara itu tertidur�
Sedikit demi sedikit alam mulai membuka mata�
Mulai menajamkan telinga�
Apa lagi yang akan terjadi?
Lalu suara air memercikkan kata-kata�
Dawai suara melantunkan nada...
Aku tak berdaya di sisi kekasihku...
Dan dia tersengal-sengal menghirup badai...
Aku bahagia, kasih...
Aku lebih bahagia, kasih...
Kita paling bahagia...
Untuk satu masa ini...
Lalu kami tertidur...
Pulas...
Pulas...
Pohon-pohon menudungi bagai kelambu...
Bunga-bungai sungai kecil menebar aroma...
Rerumputan liar menutup setiap celah intip jasad...
Hanya mereka saksi...
Aku dan air di pinggiran sungai...
Kekasihku�
Lalu�
Tongkat sang waktu terdengar sayup�
Aku terbangun�
Matahari tertunduk-tunduk mengantuk�
Bulan mengenakan kalung kebanggaannya�
Kekasihku�
Aku harus pergi�
Sulurnya terjaga dan kembali membelitku dalam rengkuhnya�
Dia berbisik� jangan, kasih�
Tinggallah di sini�
Menyatulah denganku� jadilah aku dan kamu� kita�
Agar jasad ini terus menyatu� suci dan murni�
Mustikaku� mustikamu�
Biarlah jadi altar penyembahan semua makhluk yang hidup�
Berkaki maupun tidak berkaki�
Biarlah jadi nisan bagi yang mati�
Berkaki maupun tidak berkaki� sama saja�
Ku kecup bibirnya sepanas api... beku�
Aku tidak ingin menjadi air di pinggiran sungai�
Juga tidak akan jadi air danau yang tenang...
Bahkan tidak juga jadi air laut samudera luas...
Hening...
Bila aku adalah cair, Kasih...
Aku hanya ingin menjadi darah dalam tubuh seorang manusia...
Air tenang di pinggir sungai melepas rengkuhannya...
Lemas�
Dia berujar lunglai�
Pergilah, kasih� kau akan kembali�
Aku tersenyum...
Perlahan berdiri... ku kenakan helai penutup auratku... kuikat erat tali kesetiaannya...
Aku berujar...
Aku telanjang, kasih... di balik helaian ini...
Kaulah helaian auratku yang hakiki...
Air tenang di pinggir sungai�
Alam.. pohon-pohon, bunga kecil, rerumputan�
Aku telah merindukanmu..
Sebelum aku pergi� aku kembali�
Suara-suara hening itu melantun,
�Air di pinggiran sungai�
Mengalir dalam gapaian� Mencumbu tanpa gelora�
Menyuarakan percik... Membiarkan dalam peluk...
Menghidupkan hidup... Membawa pergi yang mati...
Memandang lebih lebih lama� Melupakan seketika�
Air di pinggiran sungai�
Begitu tenang dalam tiap ingatan�
Takkan pernah terbersit petaka...
Hingga pada satu titik masa...
Tiada lagi air tenang di pinggir sungai...�
Aku pergi...
Jernih ku dengar satu salam,
Aku milikmu...
Wahai kau air di pinggiran sungai...
Friday, April 21, 2006
AIR DI PINGGIRAN SUNGAI
Posted by
MAWAR RAMBAT
at
5:34 PM
Subscribe to:
Comment Feed (RSS)
|