Friday, April 21, 2006

ELANG

Aku berjalan pada setapak�
Dan setapak�
Hingga akhirnya aku terduduk di pinggir danau tenang. Di atas sebongkah batu kali besar selayaknya singgasana. Kakiku menyentuh permukaan air danau yang tenang, menciptakan bulatan-bulatan kecil yang bertambah besar dan besar. Kudengar bunga-bunga lili putih mengikik tertahan melihat danau yang menggeliat kegelian.
Aku tersenyum.
Danau ini sangat bening. Bagai kaca cermin. Lihatlah bunga-bunga lili itu. Tiada lagi yang mereka lakukan selain mematut-matutkan diri. Diantara semua bunga, mereka adalah yang paling sadar bahwa mereka�cantik.
Diantara riak kulihat pantulan bayangan langit yang terbelah.
Aku menengadah.
Di atas sana, disela awan yang terbelah, aku melihat setitik trisula yang menukik tajam menuju dataran untuk kemudian melesat kembali menghujam angkasa.
Aku terpesona. Dia begitu perkasa.
Aku termangu. Mataku mengering. Aku mengerjap-ngerjap menghapus perih.
Kembali...
Aku menengadah, terpesona, termangu... mengerjap-ngerjap menghapus perih...
Satu titik itu. Berjasad Elang...
Ya, jasad Elang� tapi bukan elang�
Dia terlalu dahsyat untuk menjadi elang�
Terlalu lemah untuk menjadi elang...
Dia Elang... dia bukan elang...
Tiba-tiba angin keras menerpaku hingga aku hampir terlonjak jatuh�
Air danau bagai terbangun kaget dan riaknya berlarian kesana kemari�
Bunga-bunga lili menjerit kecil menahan kain-kain putih mereka agar tidak terangkat�
Aku menutup mataku. Menunggu yang akan terjadi�
Angin keras itu� bagai deru kaki-kaki kuda perang�
Tapi mengapa lembut di kulit wajahku� selembut sentuhan tangan kekasih yang sedang jatuh cinta�
Lalu semua hening�
Kubuka mataku� dia di situ� tepat dihadapanku�
Dari seberang danau, aku menatapnya bagai menatap penyelamat�
Dari seberang danau, ia menatap bagai menatap kerinduan miliknya�
Hai, Elang...
Aku menyapa jasad megah itu...
Sudahkah kau tinggalkan meterai kebanggaan pohon pinus tua diantara dedahanannya?
Luka bekas cakaranmu adalah perhiasan terindahnya...
Sakit yang ia rasakan adalah nikmat...
Elang tersenyum...
Hai, Elang...
Adakah bertambah rahasia yang kau ketahui dari sang badai?
Dalam setiap lekuk dan tikungan...
Lesatanmu yang bagai detik yang berlalu...
Bahkan tikus-tikus mabuk yang terhuyung-huyung di dalam perutmu masih berkoar...
Ular-ular malah saling meracuni...
Ah, bahkan sang badai pun jemu...
Elang tersenyum...
Hai, Elang...
Bagaimana kabar rahim gunung batu?
Tempat kau disemai, lahir dan kembali lagi�
Dalam kekakuan simpuh abadi dan rintihan doanya...
Namamu adalah yang pertama dan terutama�
Namanya adalah yang terakhir dan terlupakan�
-jeda-
Hai, Elang�
Sudahkah���..
Elang melepas jubahnya� tubuhnya tegap menantang�
Aku terdiam dalam jengah�
Elang merentangkan sayapnya� menggeliat�
Aku tertegun mengukur�
Alangkah nikmat dalam rengkuhannya�
Hangatkah?
Aku mengerjap�
Air mataku berlarian di sela lesung�
Elang tertegun mengira-ngira�
Aku memeluknya dengan senyuman.
Aku mengecup paruh jingganya dengan tatapan.
Wahai, kau yang berjasad Elang. Kau menyimpan banyak hikmat�
Aku membelainya dengan harum tubuh jasadku�
Matanya menatap tajam mataku...
Tidak, Elang... aku tidak sedang menangis...
Elang menatap danau...
Tidak, Elang... danau tidak sedang meringis...
Elang menatap bunga-bunga lili...
Tidak, Elang... bunga-bunga lili hanya tak ingin gaun mereka tercabik...
Elang menatap mataku...
Tidak, elang... aku tidak sedang menangis...
Mengapa kau tanyakan itu lagi...
Jasad Elang di hadapanku membeku... membatu...
Elang berujar dalam satu pekik panjang...
Wahai, sayapku yang mewarisi keagungan pohon pinus tua...
Yang satu kibasan rentangannya mampu membawaku hingga batas penjara fatamorgana...
Kelelahanku...
Jeda...
Wahai, tubuhku yang mewarisi kemarahan badai...
Yang senantiasa ingin menandangi bumi dan langit...
Tapi yang tertinggal hanya...
Kelesatan�
Jeda�
Wahai, paruhku yang mewarisi angkuhnya gunung batu...
Yang tidak sempat berbicara...
Menebar bahasa...
Bahkan untuk sekedar bertanya...
Tentang satu tanya...
Jeda...
Katakan, Elang... ini saatnya...
Elang berujar,
Hanya kau makhluk berkaki yang mampu berbincang denganku...
Jeda...
Katakan pada ku... apa warna mataku?
Aku terhanyut gemuruh...
Wahai, Elang...
Sudahkah kau menantang matahari?
Dahi Elang menyimpul...
Jawablah...
Elang menjawab...
Sedari ia terbit...
Lalu...
Dia mengeluarkan semua terik...
Dan...
Menyerah kepanasan...
Aku tergetar...
Tak tahukah kau wahai Elang...
Kau bertanya saat jawaban telah ada...
Kau mewarisi warna matanya�
Mewarisi ketajaman teriknya�
Mewarisi kebesaran pandangannya�
Saat kau menantang matahari.. hanya kau yang tidak dilibasnya�
Saat pekik mengaum menyadarkan setiap yang terlena�
Hanya kau kebanggaannya�
Hanya kau yang ditudungi mahkotanya�
Tak ada yang lebih tinggi dari pohon pinus tua�
Dari gunung batu�
Bahkan dari badai�
Hanya kau yang mampu mendekatinya�
Mampu berbincang dengannya tanpa terbakar�
Seperti saat ini aku denganmu�
Hening...
Saat kau menantangnya..
Kau sedang melihat warna matamu sendiri..
Dan kau berkaca dalam bola matanya�
Gemuruh�
Aku tertunduk.. kau terang� dan tak silau...
Aku terkubur dalam warna mata itu... dan aku bertambah hidup...
Aku terengkuh dalam untaian kata-kata... dan aku terbisu...
Hening menerpa...
Bahkan angin pun tiada�
Hanya nafas-nafas kehidupan�
Hening�
Elang berujar,
Bilakah mungkin aku pun tinggal di sini?
Dekat ragamu?
Di sisi jasadmu?
Mataku menatapnya nanar...
Jangan, nanti aku mati...
Ingatkah kau?
Kau adalah pohon pinus...
Kau adalah gunung batu...
Kau adalah badai...
Dan...
Kau adalah matahari...
Dari jauh kau adalah indah, kuat, perkasa,... hidup...
Dari dekat kau adalah luka, bebal, hancur,...mati...
Kau adalah Elang... bukan elang...
Kau lahir terikat dengan bumi�
Sebagai persembahan kepada langit�
Maka di situlah kau berada� antara bumi dan langit�
Menyusuri garis cakrawala�
Lonceng kereta kencana bulan�
Aku tersadar� matahari ingin mengucapkan salam, Elang�
Aku berdiri dari dudukku� pulanglah ke pangkuan gunung batu�
Titip salamku untuk puncak pohon pinus tua�
Dan tidurlah tenang diiringi dawai badai�
Elang tercekat�
Sang Waktu mulai mengumpulkan jasad-jasad mati�
Jangan sampai kau tersapu olehnya�
Elang memungut jubahnya... mengenakannya... mengikat tali emasnya...
Dia bertanya...
Dan kemana kau akan pergi?
Aku pergi kemana aku akan pergi...
Bulan yang pencemburu yang akan menjemputku...
Jangan sampai bintang-bintang berjatuhan melihat kita berdua...
Matahari terlanjur menitipkan cahayanya...
Untuk menemanimu...
Menemaniku�
Aku mulai melangkah�
Menyusuri setapak...
Dan setapak...
Dan elang pun pergi... satu kepak menuju titik awal-akhirnya...
Semakin jauh...
Semakin dekat...
Gaung pekiknya berujar...
Aku milikmu...
Wahai yang bermata senja...