(Jakarta, Maret 2004)
Di suatu pagi dalam rumah kaca..
Ssrk..ssrk...
Kudengar suara gesekan dedaunan dalam hutan tropis miniku. Sekelebat aku melihat sesuatu beringsut di sela-sela rimbunannya. Antara nyata atau hanya bayanganku saja karena memang tak kubiarkan satu makhluk hidup pun masuk kecuali diriku dan tumbuhan-tumbuhan tropis disekelilingku. Itu pun aku yang membawa mereka sampai di tempat ini, berhubung mereka tidak bisa jalan sendiri. Bahkan satu kupu-kupu pun akan aku usir keluar. Jangan sampai telur-telurnya yang berisikan ulat-ulat rakus itu menetas di selal-sela dedaunan hutan tropisku dan menghabiskan daun-daunnya.
Hutan tropis miniku.
Hanya hijau yang tertangkap mata.
Bila ada satu saja bakal bunga kulihat di sana secepat kilat akan kupetik dan kupindahkan ke dalam wadah khusus. Selanjutnya bakal bunga yang siap mengembang itu hanya akan mengisi sudut-sudut tersembunyi dalam rak-rak kenanganku untuk pada akhirnya nanti hilang entah kemana meninggalkan wadahnya. Bukan aku yang memindahkan. Aku menaruhnya di situ untuk kulupakan, tapi tidak untuk kupindahkan. Mungkin Waktu yang risih melihat bangkai-bangkai bakal bunga kering yang lebih mirip sampah ketimbang.. apa? Itu memang sudah jadi sampah. Atau tikus-tikus iseng yang melalapnya sebagai pelengkap jamuan makan malam mereka. Entahlah..
Ssrk..ssrk..
Kutajamkan pendengaranku, kupastikan lagi mataku menjalari teliti setiap inci pandangan. Dimana dia? Dia? Seakan aku sudah yakin betul kalau memang ada kehidupan lain yang ikut-ikutan tinggal dalan rumah kacaku.
Selama bertahun-tahun rumah kacaku lebih seperti pajangan hidup raksasa yang hanya bisa dilihat dari luar tanpa dapat seorang pun dapat masuk ke dalamnya. Mata-mata penasaran yang mencoba melongok lebih dalam hanya akan mendapat ganjaran keras. Dan mereka yang sudah mengalaminya tidak akan pernah mau mengalaminya untuk kedua kali.
Well, mereka dapat menikmati kebun buahku yang setiap tanaman dan pepohonannya selalu ranum. Bercengkeramalah di padang bungaku yang berwarna-warni indah. Bahkan pelangi pun iri melihat kemilaunya. Akankah serupa dengan taman legenda tempat Adam dan Hawa mencelik mata dan terbuta? Anggaplah sama, aku belum pernah menyinggahinya.
Aku juga punya danau tenang yang menjamu kedamaian. Mereka boleh berendam disana sampai hilang penat yang menjajah raga.
Aku masih punya padang pasir yang mengajak semua orang belajar berpetualang menantang hawa panas, ada bukit salju yang gletsyernya senantiasa mengajak bercanda dalam dingin. Atau pantai genit yang bagai gadis belia yang tertunduk malu karena tertangkap basah telanjang. Aku bahkan punya gunung batu yang dipuncaknya bersarang burung elang milikku walau tak pernah kupelihara. Aku juga punya istana dalam lorong goa raksasa yang meneteskan air sumber kehidupan yang konon mampu menghentikan waktu manusia. Aku pun belum sempat mencobanya. Lebih tepat lagi, belum tertarik untuk mencobanya.
Sebutkan tempat yang mereka ingin kunjungi, aku memilikinya.
I have all places!
They are all outside my green-house!
Lalu, mengapa pula rumah kaca ku ini? Di tepian sungai milikku ada hutan tropis seperti milikku. Lebih besar, lebih rimbun, lebih berwarna. Hutan tropis miniku ekslusif hanya untukku. Pandanglah saja dari jauh agar lebih telihat indahnya. Dari jauh dia bagaikan bandul kalung emerald hijau yang bertengger indah di antara dua bukit kehidupan. Dari dekat dia hanya hijau, bila itu yang terlihat.
Dan bukan hanya itu, mereka dapat mengambil setiap buah, bunga, dan semua kehidupan yang mereka temui disana. Bahkan bila ada benda mati yang lebih bernilai di mata mereka, setiap emas, berlian.. ambillah semua. Ambillah..! TAKE THEM!!! Milikku yang lain kusediakan untuk diambil. Bahkan tanpa izinku. Tapi jangan dekati rumah kacaku, hutan tropis miniku.
Ssrk.. ssrk..
Itu dia..
Di sela-sela turqoise raksasa dekat genangan air tempat ku menyenderkan punggung dengan beralaskan rumput dingin yang siap memanjakan tiap bayang khayalan, Di sela satu titik yang juga hanya milikku, mataku menangkap kelebatan sebentuk jasad makhluk hidup mencoba untuk menghindari silau tajamnya pencarian mataku.
Arrgh! berani-beraninya apapun itu!
Tiba-tiba kelelahan menyergapku dari belakang. Menyeretku untuk berbaring pasrah di atas hamparan rumput itu. Aku terpekur melihat kesunyian ini. Makhluk itu ada di sini. Aku tidak sedang sendiri. Paling tidak ada dua makhluk berkaki di tempat ini. Aku merenggut kesal seperti kekasih yang cemburu, seperti anak gadis kecil yang tidak diizinkan untuk mendapatkan boneka pilihannya.
Kurebahkan kepalaku seraya menunggu apapun itu kembali menunjukkan keberadaannya. Sekali ini aku akan lebih waspada, lebih peka. Aku takkan lengah. Kubuat makhluk itu yang lengah agar bisa kutangkap dan kubuang jauh-jauh dari hutan tropis miniku.
Lama aku menanti. Kuatur nafasku, satu tarikan penuh, keluar dalam sepuluh hitungan detik...
Semakin lama aku menanti. Ku buka lebar mataku menadah cahaya mentari sore, dan perlahan-lahan tertutup kembali dalam sepuluh hitungan detik...
Satu kali.. dua kali.. tiga kali.. puluhan kali.. ratusan kali..
Semakin lama dan lamaaaa sekali..
Sssh...
Suara dedaunan berbisik membujukku untuk tertidur.
Aku jenuh.
Tubuhku penat.
Kugerakkan tubuhku sedikit menyamping. Kualaskan kepala diatas lengan, dan rambutku terurai pasrah terlepas begitu saja. Serupa lelahnya raga.
Aku lelah. Aku menyerah. Detik ini kamu aman. Tapi di detik lain, kau akan kudapatkan dan kubuang jauh sejauh-jauhnya. Sebelumnya, rasakan dulu remasan tanganku yang akan menahan aliran setiap cairan tubuhmu. Hingga kau tersedak, tercekat...ketakutan.
Bagai bayi lemah, tanpa sadar terlepas semua tiang-tiang kewaspadaanku. Aku terbuai dan...
Seketika mataku membelalak.
Ada mata lain! Ada mata lain yang mengamatiku. Aku tau yang kulihat. Itu mata! Tapi.. dimana tubuhnya? Hantukah?
Dia bergerak pelan.. sekilas kutangkap sebentuk jasad. dia terus bergerak hingga tepat berada di atas hamparan rumputku, tepat di hadapan ku. Lalu, dia hanya diam disitu. Diam. Matanya memandangku. Tertumpu tepat di bola mataku.
Aku tertegun...
Makhluk bodoh.. kau dalam jangkauan tangkapanku..
Aku diam...
Dia diam...
Kau takkan bisa lari lagi. Sebentar lagi kau hanya akan terpekur kaget lemas tak berdaya dalam genggaman tanganku..
Dia diam...
Aku diam...
Tanganku diam. Membeku...
Lamat-lamat aku mendengar tangisan. Sayup-sayup. Lalu mengalun bertambah keras bagi simphoni. Samar-samar kulihat air mata mengalir. Dari tiap tanaman tropisku. Bahkan batang-batang kokohnya melunglai lemas tak berdaya. Kulihat akar-akar yang bagaikan mengkerut menahan isakan dalam. Aku getir. Kutegakkan tubuhku.
Mataku kembali tertuju pada jasad hidup itu.
Dia seekor bunglon...
Dia hijau...
Dia mendekatiku...
Dia terus memandangku...
Dia menangis...
Dalam nada-nada nyanyian kudengar lantunan kata-kata tentang kesedihan. Tentang kerinduann menggapai langit, menyapa mentari. Tentang bakal-bakal bunga yang mati sia-sia. Tentang buah-buah yang tak pernah ada. Tak sempat ada.
Tentang penjara kaca yang membuat mereka mati dalam hidup, dan hidup dalam mati. Tentang kerelaan dedaunan dimakan ulat-ulat kecil bakal kupu-kupu, kerelaan ranting untuk patah demi kacau burung yang bertengger, kerelaan membiarkan bunga-bunga bermekaran untuk dihampiri lebah, tertusuk sengat yang lalai, demi untuk menjadi buah yang hidup untuk mati, dan hidup lagi.
Hidup...
Hutan tropis miniku...
Bunglon hijau itu terus memandang ke arahku. Dalam bisik lirihnya dia berucap...
Tentang keindahan yang tersembunyikan dari semua pandangan mata. Tentang kehampaan yang menyesakkan dada dalam himpitan makna-makna yang tak terbiarkan bercengkerama.
Tentang keterpesonaannya pada nyanyian sedih yang indah, tentang kerinduan padaku.
Padaku?
Sejenak dia diam seakan sedang menenangkan badai petir dalam jiwanya. Tubuhnya bergetar. Getarannya begitu keras hingga menggoncang pijakanku. Tapi mengapa semua terasa begitu tenang? Sunyi...
Kembali dia berujar...
Jeratlah aku dalam genggaman jemari-jemarimu. Remas aku dan hentikan aliran dalam nafasku. Lempar aku keluar dan buang jauh sejauh yang kau mampu, yang kau mau. Asalkan pernah aku rasakan kulit ini tersentuh kulitmu. Asalkan ada kenangan dalam bara itu. Asalkan dapat kulihat warna bola mataku. Asalkan aku rasakan bahwa memang ada denyut nadimu. Asalkan ada satu cerita tentang kamu dan aku. Asalkan...
Sejenak aku ragu akan jasad di hadapanku Ada suara-suara lain yang kudengar selain nyanyian hutan tropisku yang merintih. Ada nyanyian hati, nyanyian jiwa, ada roh yang auranya bercahaya, tapi fisiknya..? Manusia penyihirkah dia? Yang mampu menipu mataku dalam ujud seekor bunglon. Ataukah dia memang seekor bunglon yang tengah dalam proses menjadi manusia, atau jangan-jangan dulu dia memang seorang manusia yang dikutuk menjadi seekor bunglon seperti dongeng putri dan pangeran katak?
Aku bergidik...
Aku berdiri pelan. Kubalikan tubuhku membelakangi pemandangan mataku. Aku berjalan menuju dinding rumah kacaku. Bening sebening mata air yang belum tersentuh.
Kujelajahi pemandangan lain di luar ruang kaca itu.
Luas seluas-luasnya luas..
Indah seindah-indahnya indah...
Ranum seranum-ranumnya ranum.
Berwarna seragam-ragamnya warna...
Sejuk sesejuk-sejuknya sejuk...
Hangat sehangat-hangatnya hangat..
Terbuka, terbebas, terlepas...
Tidak seperti hutan tropis miniku..
Tidak seperti rumah kacaku yang bagai bandul kalung emerald hijau yang bertengger indah diantara dua bukit kehidupan..
Rumah kaca ini adalah yang terluas, terindah, teranum, paling berwarna, tersejuk, terhangat bagiku untuk menggantang rasa, tapi terlalu sempit untuk didiami lebih dari dua jiwa. Lebih dari dua makhluk yang sama-sama tak berdaya menggali dalamnya bumi, memanggul beban mentari., memijarkan cahaya bintang...
Perlahan air mataku menetes. Mengkristal, bergulir, jatuh... dan hilang membasuh kesadaranku.
Kubalikkan tubuhku. Kembali berhadapan langsung dengan... oh, dear Lord, bunglon dan semua tanaman tropis miniku..
Aku terdiam, terpekur, termangu...
Sebentar lagi mentari merebah dalam selimut malam. Dan Bulan akan datang menggelar drama impian dan tarian khayalan. Dan aku pelakon utamanya.
Hening..
Aku harus pergi..
Pelan kulangkahkan kaki menuju pintu. Satu-satunya pintu yang tersedia di situ. Mata-mata tak terlihat memandang ku hampa, tak berdaya. Berharap, tapi tak kuasa meminta. Bibir-bibir mereka terkunci rapat. Terkunci kegalauanku.
Maafkan aku rumah kacaku... Aku memang tak ingin kau tersentuh...
Bayangan kaca memantulkan mata ternanar yang pernah kulihat.
Mataku juakah itu? Kerinduankukah itu?
Nyanyian sunyi menahan langkahku.
Sejenak aku lupa akan niatku untuk membuang jauh bunglon itu. Mungkin kali lain. Mungkin juga tidak akan pernah. Mampukah kubiarkan? Bunglon itu pasti masih ada di situ memandangiku dengan kemenangannya.
Kusentuh gerendel pintu. Kubuka pelan. Nyanyian kesunyian memelukku hangat dan dingin berganti-gantian. Kubalikkan tubuhku. Benar. Bunglon itu masih disana.
Kau menang.. dan dia melunglai..
Kau boleh tinggal... dan dia membenam dalam rerumputan... Semakin dalam...
Temani rumah kacaku. Hancurkan dinding kaca ini bila kau mampu. Dan saat kudatang kembali pastikan kau pun mampu mencumbui kulit hangatku, bahkan ragaku..
Sayup kudengar dia berujar tentang kekalahan yang baru terjadi. Kekalahannya dan kekalahanku diatas angkuhnya tirani yang kuciptakan untuk diriku sendiri.
Sejenak ku kembali terikat kata-kataku yang bisu.
Kubiarkan kau karena... karena kau hijau...
Kesunyian mengalir pelan bagai semilir angin, mengecup leherku. Dingin. Hangat. Mampukah aku untuk pasrah?
Kulangkahkan kakiku keluar. Pergi sampai saatnya aku akan kembali. Entah kapan.. Lamat ku dengar bisikan...
Aku milikmu...
Wahai kau yang hijau..
Tuesday, April 18, 2006
BUNGLON
Posted by
MAWAR RAMBAT
at
7:31 PM
Subscribe to:
Comment Feed (RSS)
|