inspired by: abang is
Sore itu, matahari masih menyisakan terik yang belum habis. Aku dan Hamid, bercengkerama setelah seharian penuh mengelilingi ladang hidroponiknya yang sedang siap panen. Hamid memang penggemar tanaman, usaha ini sebenarnya bermula dari hobi yang lalu ia jadikan bisnis. Kecil-kecilan, tapi selalu menguntungkan.
Hamid, tidak banyak berubah setelah 15 tahun kami tidak berjumpa. Kepindahanku ke Medan serta aktifitas kuliah telah sukses menguras habis waktu kami. Hubungan interlokal adalah suatu �kemewahan� bagi kami saat itu. Surat menyurat terasa tidak praktis. Akhirnya hubungan komunikasi menjadi terhambat, walau kami tidak alpa untuk saling berkiriman kartu saat Lebaran dan Natal. Lulus kuliah tidak pula menyediakan waktu ekstra bagi kami. Setelah kami akrab dengan media Internet dan memiliki handphone sendiri, barulah kami bisa lebih lega bertukar kabar. Tapi semua tetap tidak lengkap tanpa kehadirannya tepat di dekatku.
Tiga bulan lalu aku pulang ke Jakarta untuk kembali berkumpul bersama ayah dan ibu yang sudah menua, serta mencari pekerjaan baru. Dan, Hamid menyempatkan diri untuk menjemputku. Pertama kali lagi aku melihatnya di depan mataku.
Hamid masih bergaya kasual, dan doyan melucu. Ketertarikannya akan makna manusia masih besar. Suatu saat pernah dia bilang, �Detil kemanusiaan itu penting. Ini akan mengantar kita kepada Ketuhanan. Jangan menyerah pada ketidaktahuan dan membiarkannya menjadi misteri. Sebagai makhluk yang memiliki roh, aku rasakan betul Tuhan memang ada. Aku bukan kucing, Mia. Penggemar kucing sih iya. Hehehe..�
Duh, Hamid.. Dia tetap istimewa bagiku.
�Semua manusia adalah peladang. At least, begitulah seharusnya,� ujar Hamid memulai perbincangan sambil menatap jejak matahari yang bergerak turun.
Ah, dia mulai lagi, ujar suara dalam hati. Banyak pendapatnya yang sulit aku mengerti, tapi selalu menarik untuk didengar, walau tak semua aku setujui.
�Oh ya?! Bagaimana bisa?� tanyaku.
�Renungkanlah. Manusia tinggal dalam kokohnya atap langit, beralaskan tanah, bermandikan hujan, berwaktukan matahari yang membangunkan saat tuai dan saat panen,� jawabnya serius. Tapi, aku yakin sebentar lagi akan ada kata-katanya yang akan membuatku terpingkal-pingkal.
�Ah, another Hamid�s idea. Oke!�, ujarku sembari mengerling.
Hamid tersenyum dan berkata lagi, �Nah, yang dituai itu hanya satu biji pohon yang ditanamkan saat manusia masih tidur dalam rahim ibunya, atas prakarsa ayahnya. Hehehe..� Hamid menyengir nakal.
�Hanya satu?� Tebakanku benar, dia mulai lagi.
�Ya, hanya satu biji pohon terbaik, yang kelak menjadi tunas kecil dan tumbuh semakin besar. Lalu, berbunga dan berbuah. Banyak sedikitnya tergantung manusia itu sendiri. Ingat, pohon, artinya berkeping dua, berakar tunggang.�
Aku menghela nafas. Menahan geli yang mulai menggelitik.
�Manusia seharusnya menjaga tunas itu untuk menjadi pohon yang kokoh. Tapi, terkadang manusia tidak mempedulikannya. Buruknya, ada yang menyangkanya sebagai rumput liar biasa dan membuangnya jauh-jauh. Ada juga yang tidak mampu menjaganya karena tidak tahu bagaimana caranya. Apapun itu, tugas menyemai dan menuai ada pada manusia itu sendiri,� ujar Hamid, kali ini dengan nada yang, sepertinya, serius.
�Oke, setelah berbuah?� tanyaku lagi.
�Ya, dimakan, dong! Hahaha.. Masa, kamu tidak mau makan hasil dari kerja kerasmu sendiri? Mia, kau ini lucu juga!� ujarnya seraya tergelak.
Aku terbengong sendiri, orang ini sedang memperolokku. Hamid belum reda. Entah mengapa, aku tidak pernah tersinggung ataupun marah. Aku malah senang melihat matanya yang menyipit dan lekuk sudut bibirnya manis. Terutama saat ia sedang tertawa seperti ini.
�Aku kan tidak tahu. Kata-katamu terkadang sulit aku tebak. Otakku cuma sebesar kepalaku ini,� jawabku bersungut sambil menggaruk-garuk jidat.
�Hahaha.. Aku lanjutkan, ya?! Nanti jidatmu itu lecet.� tawanya lagi. Aku hanya tersenyum.
�Please..� Aku hampir tidak bisa menahan gelak yang ingin keluar. Wajahku pasti memerah.
�Nah, sedikit banyaknya buah yang dihasilkan akan lebih baik bila juga dibagikan dengan manusia lain yang tidak memiliki atau yang gagal panen. Kenapa? Karena pohon buah itu berbeda pada setiap manusia. Kenapa? Karena kalau sama, ya seperti yang kau bilang tadi, masa peladang semua? Coba bayangkan kalau semua orang punya durian, weleh, bisa sakit perut tiada akhir. Kau tanyakan kenapa, dong!�
�Kenapa?� Lho, aku kok jadi mengikuti kata-katanya?
�Ya, karena kebanyakan makan durian! Hahaha..� Tawa Hamid semakin lepas. Tawaku pun akhirnya ikut terlepas. Aku cubit gemas lengannya.
�Oke, terserah kaulah! Lalu?� ujarku seraya menghabiskan rasa geli yang tersisa.
�Nah, yang membawa buah-buahan itu adalah angin. Angin ini seumpama sayap burung. Manusia punya sepasang angin. Angin Utara dan Selatan. Masalahnya tidak semua manusia mengendalikan angin-angin itu dengan cara yang seharusnya. Angin Selatan lebih wira-wiri terjangannya, ketimbang Angin Utara yang kalem,� jawab Hamid mulai tenang. Derai tawanya mulai surut.
Hamid mengambil gelas es teh manis yang sudah mengembun, menenggaknya sampai habis setengah, lalu meletakkannya kembali di atas meja. Aku mengikutinya.
�Saat tunas pohon mulai muncul, saat itulah Angin Selatan mulai menggeram. Dan, saat bunga-bunga pohon itu bermekaran, Angin Utara pun bersiap-siap. Angin Selatan adalah yang pertama, tapi Angin Utara adalah yang terutama. Karena Angin Utara adalah penyeimbang Angin Selatan. Sparing partner-lah. Tapi tidak ada yang lebih penting dari keduanya,� lanjutnya lagi.
�Angin Utara adalah si baik dan Angin Selatan adalah si jahat, begitu?� tanyaku.
�Baik-jahat itu manusia sendiri yang menentukan. Kalau niatnya jahat, jadilah jahat. Yang lebih merusak adalah anginnya sendiri ketimbang buahnya, pun bila tidak terlalu bagus mutunya,� jawab Hamid. �Well, Angin Utara dan Selatan memang punya fungsi berbeda, tapi harus seirama dan seimbang. Sama persis seperti sayap burung. Seimbang, seirama. Kalau yang satu terluka, atau patah, maka sayap yang lain menjadi tidak ada gunanya. Karena sayap untuk membawa terbang, bukan untuk mengais tanah, atau memetik buah,� sambungnya lagi menerangkan.
�Aku kok semakin tidak paham,�
�Begini, Angin Selatan melayani naluri manusia, yaitu pohon itu. Dan, Angin Utara melayani nurani, yaitu bunga-bunga dari pohon itu juga. Buah-buah itu melambangkan perbuatan manusia. Perbuatan akan menjadi baik bila ada singkronisasi antara akal dan rasa. Seperti tanaman umumnya, perlu tanah dan cahaya matahari. Fungsi Angin Selatan adalah menyiapkan jalan bagi Angin Utara. Seperti itulah,� terangnya lagi.
�Aku kok malah jadi ingat iringan mobil Presiden di Sudirman waktu itu. Dan, Angin Selatan itu jadi polisi-polisinya,� kataku.
�Ya, memang seperti itu. Jadi, sifat Angin Selatan memang sesuai dengan fungsi utamanya yaitu pemurnian atau pembersihan. Dan, sifat kalem Angin Utara adalah karena ia berfungsi sebagai penguat atau peneguh. Yang harus diperhatikan adalah kadarnya. Harus seimbang.�
�Dan, letaknya niat di tangan manusia itu sendiri sebagai komandannya?� tanyaku menegaskan.
�Betul! Sayangnya, ada manusia yang tunas pohonnya keburu mati, atau tidak sempat berbunga, dan di saat itulah ketidak seimbangan terjadi, dimana Angin Selatan jadi superior power yang tidak terkendali. Dan ini tidak baik buat manusia itu sendiri,� ujar Hamid membenarkan.
�Kenapa?� tanyaku serius.
�Bayangkan saja, orang masuk angin saja sudah susah, apalagi masuk badai. Hahaha..� Hamid tergelak melihatku terbengong mendengar jawabannya yang asal-asalan.
�Ah, kau mulai lagi. Lalu, kalau angin Utara yang lebih aktif? Lagipula, apa artinya angin ketemu angin? Bagaimana pula angin sepoi-sepoi membawa sesuatu? Kalau badai, okelah.� Aku mencoba tidak mempedulikan tawanya.
�Ini adalah perumpamaan fungsi. Jangan benar-benar kau gambarkan seperti angin, dong. Angin Selatan perlu dikontrol dengan cara meningkatkan keaktifan Angin Utara yang sepoi-sepoi itu. Dengan kata lain, nurani harus lebih banyak dilibatkan. Seperti sore ini, angin sepoi-sepoi bisa buat penat kita berkurang kan?!� Hamid menyelonjorkan kedua kakinya seraya menghirup udara sore yang mulai menyejuk. �Dan, masuk angin itu justru kalau Angin Utaranya tidak dipekerjakan. Jadi angin duduk. Ya, duduk terus deh.. Hahaha..� Hamid tergelak. Ada saja caranya memancing tawa, minimal untuk dirinya sendiri.
�Kembali ke yang tidak punya pohon tadi, bagaimana dengan mereka?� tanyaku kembali, memperlihatkan wajah serius. Walau sebenarnya aku juga ingin tertawa. Biarlah, aku tidak ingin terpancing kali ini.
�Ketidakseimbangan akan terjadi. Kreatifitas yang berkurang, motivasi hidup yang melorot, atau kepedulian yang hilang. Banyak hal yang terjadi akibat ketidakseimbangan ini. Kepada merekalah buah-buah itu dikirimkan, karena mereka tidak punya buah sendiri untuk dimakan. Celakanya, peladang tanpa niat baik mengirimkan buah-buah mereka dan menambah �sakit� manusia lain itu karena hanya melulu demi kepentingannya saja. Angin Selatan yang membawanya tidak diseimbangkan dengan Angin Utara. Pun, sebaliknya,� ujar Hamid menerangkan. �Yang sering diabaikan adalah pada setiap biji sisa buah yang dimakan tertulis nama peladang pemiliknya. Setiap bebijian itu jatuh, tumbuh dan besar di tanah yang baru, pepohonan baru itu tetap menjadi milik peladangnya yang terdahulu. Nama dan sidik jarinya akan selalu ada, tanpa henti. Angin yang sama akan membawa pulang suara pepohonan yang menyebut namanya. Kalau buruk, jadilah sumbang, kalau baik, jadilah merdu,� lanjutnya lagi.
�Kalau begitu tidak perlu cape-cape berladang. Toh, pada akhirnya ada pohon juga,� kataku sekenanya.
�Kalaulah ada. Tidak semua kondisi itu subur, Mia. Lagipula, pohon-pohon yang lain itu kan bukan miliknya sendiri. Manusia harus punya pohon miliknya sendiri, karena Angin Utara dan Selatan milik peladang lain tidak akan menuruti perintah peladang lain kecuali tuannya sendiri. Ah, kau ini, masa aku harus ulang lagi dari awal?!�
�Tapi, aku belum mengerti. Dan, bagaimana kalau peladang yang kurang berniat baik itu menyadari kesalahannya dan ingin memperbaiki semua yang telah dilakukannya?� tanyaku lagi. Aku memang hanya mampu meraba makna dari ucapan-ucapan Hamid.
�Maka Angin Utara dan Selatan akan ditugaskan untuk hal-hal yang diniatkan baik. Semuanya akan terulang lagi, begitu terus sampai putaran waktu peladang itu selesai. Pohon-pohon yang terlanjur telah ada atas niat yang tidak baik harus dicabutnya sendiri. Berapa lamakah itu? Bisakah itu? Well, aku rasa bisa berapapun lamanya itu. Kan ada Angin Selatan. Yang penting niatnya dulu,� kata Hamid lagi.
�Hamid, bisa tidak kau menjelaskan semuanya dengan bahasa yang aku pahami? Bagaimana kalau ternyata aku salah memahami semua yang kau katakan? Apa inti dari semua?� pintaku menyerah. Biar bagaimanapun, aku tidak mau otakku berdenyut terlalu keras.
Hamid menatapku sambil tersenyum. Senyum yang berbeda dari yang sebelumnya. Yang satu ini lebih sejuk.
�Aku terlalu melantur, ya?� tanya Hamid seakan untuk dirinya sendiri. Sejenak ia terdiam. Kepalanya menunduk sekilas lalu kembali menatapku.
�Mia, manusia lahir dengan blue-print naluri. Tapi sebagai makhluk yang tertinggi derajatnya di muka Bumi, manusia juga dianugerahi nurani. Manusia dengan naluri yang gagal tumbuh kembangnya akan merasakan kehampaan, karena hal ini menghambat tumbuh kembang nurani. Sebaliknya, manusia yang nuraninya melulu dimatikan akan terbatasi pula perbuatan-perbuatannya. Tapi yang membuat semua itu menjadi baik adalah niat manusia itu sendiri. Niat itu harus mendapat restu dari pemilik setiap roh manusia, yaitu Allah, agar yang baik itu menjadi benar. Yang satu ini memang belum aku umpamakan. Lagipula, sebenarnya ada hal lain yang sebenarnya aku ingin sampaikan padamu.�
Hamid menghening. Matanya semakin lekat, tangannya meraih tanganku dan mengusapnya lembut.
�Dan, satu pesan penting yang ada dalam tiap kehidupan manusia, yaitu keseimbangan. Angin Selatan dan Angin Utara, naluri dan nurani, akal dan rasa, Adam dan Hawa, lelaki dan perempuan..� ujarnya lagi.
Kalimat Hamid terasa menggantung. Jemarinya meremas dan membelai lembut jemari tanganku. Kini, ia berlutut di hadapanku. Aku jengah dengan kelakuannya, tapi aku biarkan saja. Aku lebih tertarik dengan kata-katanya. Mungkin aku juga telah terbius olehnya.
�Begitupun aku, Mia. Naluriku berkata aku harus menikah dan membentuk sebuah keluarga. Nuraniku menghantarku ke pencarian yang tepat. Akalku menilai bahwa seseorang ini baik untukku, dan hatiku merasakan cinta untuknya. Dan, bila kau tidak keberatan, aku berniat baik untuk menikahimu.�
Aku tercekat, menatap matanya yang terus menelusur jauh ke dalam mataku sendiri. Suara bedug masjid dan lonceng gereja berganti-gantian di telingaku. Aku tidak tahu harus berkata apa selain, �Duh, Hamid..�
-kelana-
Friday, April 21, 2006
DUH, HAMID..
Posted by
MAWAR RAMBAT
at
5:45 PM
Subscribe to:
Comment Feed (RSS)
|