Friday, April 21, 2006

MANUSIA KARUNG KENTUT

inspired by: para manusia kentut

Alkisah, suatu negeri manusia bumi dijajah oleh para manusia karung kentut. Entah dari mana datangnya para manusia karung kentut ini. Ada yang bilang mereka penjelmaan monster-monster laut yang telah bermutasi. Ada yang bilang mereka datang malam-malam hari saat sang penguasa manusia bumi lupa menjamu para dewa-dewi pelindung. Ada pula yang bilang bahwa para manusia karung kentut adalah para anak-cucu dan sahabat penguasa manusia bumi sendiri yang oleh karena suatu dan lain hal telah terkena virus langka dan berbahaya yang menjadikan semua organ dalam tubuhnya berubah ujud menjadi gas. Kentut!

Bagaimanapun caranya, para manusia karung kentut itu telah terlanjur ada. Mereka membentuk suatu koloni sendiri, saling beranak pinak, dan menguasai negeri yang tadinya saling membagi adil kesejahteraan antara rakyatnya lalu menjadikan negari itu kerajaan manusia karung kentut.

Para manusia karung kentut adalah hewan-hewan manusia kanibal yang kesukaannya adalah melahap habis isi usus manusia bumi yang belum makan sedari pagi, sampai ke ampas-ampasnya, tanpa harus mengunyahnya terlebih dulu. Masih belum puas juga, jeroan yang sudah kering dan lapuk pun masih juga mereka seruput dengan rakus. Otak tempat mengolah akal ikut-ikutan tersedot oleh perut yang telah tipis keroncongan, pita-pita suara mengering dan melekat erat di dinding tenggorokan yang serta merta membuat banyak orang menjadi bisu mendadak, sari-sari nurani pun dikulum sampai pahit lalu dilepeh di tempat sampah untuk kemudian dibakar sampai habis menjadi debu. Sungguh dahsyat para manusia karung kentut itu! Mereka melahap manusia bukan untuk menghabisi satu ras manusia bumi dari permukaan tanah, melainkan untuk menambah jumlah koloni mereka. Koloni manusia karung kentut.

Setiap matahari terbit, bondongan-bondongan manusia bumi digiring paksa ke tempat penjagalan dengan algojo-algojo bertopeng Joker dengan taring mengintip. Bukan untuk memenggal kepala mereka satu demi satu, mereka tidak akan lakukan itu kecuali memang perlu. Mereka memenggali jiwa, tali penghubung antara rasa dan akal, sehingga yang tersisa hanya naluri kebinatangan manusia bumi untuk mempertahankan hidup dan nurani yang kembang kempis kehilangan nafas, sekarat. Tanpa disangka, sengal naluri-nurani para manusia bumi ini pun ternyata juga telah membangkitkan birahi para manusia karung kentut (mereka kira itu suara desah panjang penanda musim kawin hewan-hewan umumnya), yang lalu memperkosa bertubi-tubi sampai berkali-kali, dan berkali-kali lagi, dan berkali-kali lagi. Pada akhirnya, para manusia bumi yang telah terpenggal jiwanya, telah kosong isi raganya, dengan jejas naluri dan nurani yang telah terkoyak dan terluka habis, akhirnya menjadi pelacur-pelacur tanpa gincu menjual sisia-sisanya yang ada dengan kaki-kaki yang lebar mengangkang (pun, bila ada). Berikan saja sisa-sisamu, ujar para manusia karung menawarkan harga. Bergelinjanglah selama kau mampu, sebanyak kau mampu, sampai kau tak mampu lagi, bisik mereka lagi. Kau akan kami anugerahi nama, uang, dan kekuasaan. Kesemuanya bisa didapatkan dalam waktu singkat, lirih mereka bengis. Pelan-pelan, jejas makna para manusia bumi pun hilang ditiup semburan tawa para manusia karung kentut. Para manusia bumi (yang tidak lagi manusia bumi) mendapat semua bayarannya dalam bentuk: cash kentut!

Sungguh kasihan tunas-tunas pohon idealisme yang baru belajar bernafas, yang sedang asyik-asyiknya menadah matahari. Mereka terendam muntahan kentut padat, cair, dan gas yang selalu berhamburan keluar dari setiap lubang pori-pori para manusia kentut. Benteng yang dahulu kuat menudungi tunas hingga berkembang dan berbuah, bagai rumah-rumahan kertas yang dihalau bandang. Seperti pendahulu-pendahulunya, mereka ditebas kampak kekafiran.

Hingga pada satu titik masa, jumlah manusia karung kentut semakin banyak dan manusia bumi semakin sedikit. Mereka tidak tahu lagi harus melahap siapa sehingga akhirnya saling melahap antara mereka sendiri. Kentut-kentut mereka saling bercampuran dan bertengkar di dalam meributkan siapa yang barusan kentut. Bau sekali! Matahari semakin terik, tanah semakin tipis kerontang, tak ada pohon-pohon yang memanggil angin segar dan menahan alas langkah. Semua serba panas, sumpek, ribut, hingga suatu hari���������Duarr!!

Semua manusia-manusia karung kentut itu meledak bersamaan. Mereka kalah bertikai dengan matahari yang semakin terik. Dan, berakhirlah riwayat manusia karung kentut di muka bumi.



(Sst.. Konon serpihan-serpihan kulit sisa ledakan itu telah membentuk manusia-manusia karung kentut versi baru. Jenis yang satu ini punya satu ciri khas: kentut lewat mulut!)