Tuesday, April 25, 2006

PERUMPAMAAN TENTANG GUA

�Bayangkan sebuah gua dimana di dalamnya ada sekelompok tahanan yang tidak dapat memutarkan badan, duduk, menghadap ke tembok belakang gua. Dibelakang para tahanan iu, diantara mereka dan pintu masuk, terdapat api besar. Di antara api dan para tahanan terdapat budak-budak yang membawa berbagai benda, patung, dan lain sebagainya. Yang dapat dilihat oleh para tahanan itu hanyalah bayangan dari benda-benda tersebut, dan menganggapnya bayangan itu adalah keseluruhan realitas. Tapi ada satu tahanan dapat berhasil lepas. Ia berpaling dan melhat benda-benda yang dibawa para budak dan api itu. Sesudah ia dengan susah payah keluar dari gua dan matanya membiasakan diri dengan cahaya, ia melihat pohon, rumah, dan dunia nyata di luar gua. Paling akhir ia memandang ke atas dan melihat matahari yang menyinari semuanya. Akhirnya ia mengerti bahwa apa yang dulunya dianggap realitas adalah bukan realitas yang sebenarnya, melainkan hanya bayang-bayang dari benda-benda yang merupakan tiruan dari realitas sebenarnya di luar gua. Namun, waktu ia kembali ke dalam gua dan mengajak para tahanan lainnya untuk ikut keluar, mereka malah marah dan tidak mau mennggalkan gua.� (Plato)

Perumpamaan di atas menampilkan beberapa fenomena yang menarik, antara lan:
1. �bayangkan sebuah gua dimana di dalamnya ada sekelompok tahanan yang tidak dapat memutarkan badan, duduk, menghadap ke tembok belakang gua.�
Ini menunjukkan kondisi keterbatasan pengetahuan karena hanya melihat dari satu sisi tanpa mampu atau diijinkan melihat dari sisi yang lain. Hipotesa-hipotesa yang bermunculan pun hanya mampu dibagikan dengan sesama yang juga dalam kondisi keterbatasan yang sama, itupun bila terjadi komunikasi antara mereka. Hipotesa ini diiyakan sebagai realitas/ teori awal yang (lagi-lagi) tidak berdasar pandangan-pandangan lain.

2. �Dibelakang para tahanan iu, diantara mereka dan pintu masuk, terdapat api besar. Di antara api dan para tahanan terdapat budak-budak yang membawa berbagai benda, patung, dan lain sebagainya. Yang dapat dilihat oleh para tahanan itu hanyalah bayangan dari benda-benda tersebut, dan menganggapnya bayangan itu adalah keseluruhan realitas.�
Kondisi �tertipu� yang diciptakan untuk membentuk suatu pandangan/ keyakinan tertentu oleh pihak yang satu terhadap pihak yang lain, pastinya dengan tujuan tertentu pula.

3. �Tapi ada satu tahanan dapat berhasil lepas. Ia berpaling dan melhat benda-benda yang dibawa para budak dan api itu.�
Kondisi membuka diri (pikiran dan hati) yang cukup berani untuk lepas dari ikatan teori/ paham yang itu-itu saja. Ketidak puasan akan satu hal. Ini pun menunjukkan bahwa upaya �mencari tahu� adalah berawal dari diri sendiri yang tidak ingin terikat dan terpuaskan pada satu hal saja. Kesadaran bahwa �saya tahu bahwa ada yang saya belum tahu�.

4. �Sesudah ia dengan susah payah keluar dari gua dan matanya membiasakan diri dengan cahaya, ia melihat pohon, rumah, dan dunia nyata di luar gua.�
Kondisi �mau belajar banyak�. Mengumpulkan lebih banyak lagi informasi, mengeksplorasi dan menjelajah ke hal-hal lain yang belum diketahui sebelumnya.

5. �Paling akhir ia memandang ke atas dan melihat matahari yang menyinari semuanya.�
Penganalisaan yang semakin komplit dan dalam hingga akhirnya menemukan suatu kesadaran (intelektual) lain. Suatu paham/ teori baru atau pengembangan/ modifikasi dari teori/ paham sebelumnya.

6. �Akhirnya ia mengerti bahwa apa yang dulunya dianggap realitas adalah bukan realitas yang sebenarnya, melainkan hanya bayang-bayang dari benda-benda yang merupakan tiruan dari realitas sebenarnya di luar gua.�
Enlightment atau kesadaran akan suatu yang lebih riil dan hakiki. Pengetahuan yang tidak lagi diketahui, tapi juga dimengerti, dipahami, dan dimaknai.

7. �Namun, waktu ia kembali ke dalam gua dan mengaak para tahanan lainnya untuk ikut keluar, mereka malah marah dan tidak mau mennggalkan gua.�
Ketakutan akan perubahan. Terkadang orang-orang tertentu/ sekelompok orang tertentu memilih untuk tetap pada pola pikir lama tanpa rela diperbaharui hanya karena kurangnya rasa keyakinan akan rasa aman. Pun di saat pola pikir lama itu sebenarnya mengikat mereka serupa tahanan, atau mungkin justru karena mereka tahanan sehingga tidak mampu menerima bahwa ada kehidupan luas tersedia bagi mereka. Dalam menghadapi �ketertutupan� (bahasa kerennya: eksklusifisme) seperti ini memang sulit, apalagi bagi yang telah melihat/ mengalami secara pribadi kehakikian di luar gua.

Usai membaca perumpamaan tersebut di atas, penulis mengira-ngira, apakah tahanan yang berhasil melepaskan diri itu memutuskan untuk kembali keluar dan menikmati cahaya matahari? ataukah kembali bergabung dengan para tahanan lain sembari terus bercerita tentang matahari? ataukah kembali dan hanya diam saja karena solidaritas sesama tahanan dan menyia-nyiakan kesempatannya untuk bebas?

Ironisnya lagi, saya pun bertanya, bagaimana kalau ternyata tahanan yang beruntung itu terbangun dan mendapati bahwa semua yang ia lalui hanya kilatan mimpi?

Toh, seorang tahanan hanya bebas disaat dia bebas...

-kelana-

� Special thx to Yulius La Dossa, Sastrawan Tik-tak-tik, yang menerangkan 4 tipe orang 'bodoh�.