Tuesday, April 25, 2006

TEKS SEKSUAL DALAM KARYA SASTRA

PORNOGRAFI TULISAN ATAU SASTRA SEKS?

Pornografi adalah suatu karya yang ditujukan melulu untuk mengeksplores hasrat seksual secara fisik.

Penulis ingin berbagi pandangan mengenai hal ini. Saya memulai kegiatan menulis sejak berusia SMP. Mengawalinya dengan tulisan-tulisan cerita pendek yang bercerita tentang hubungan cinta remaja selayaknya dalam usia saya (setidaknya dalam imaginasi saya karena saat itu saya belum tau yang namanya pacaran). Sebagian tulisan terinspirasi dari pengalaman nyata beberapa teman, dari deg-degannya saat jatuh cinta, bahagianya menerima kecupan pipi yang pertama, atau sedihnya cinta ditolak atau putus ditengah jalan. Semua saya kemas (dengan gaya khas remaja SMP) seapik mungkin dengan satu baseline besar: CINTA.
Seiring perkembangannya, saya mulai banyak mengeksplorasi dalam menulis karya sastra (kalau memang layak untuk dikategorikan demikian). Dari mulai kasih kepada anak kecil peminta-minta di bus kp.mlayu-blok m, sampai hal-hal yang sedang menjadi isue hangat saat itu. Dan tentunya, lagi-lagi, dengan gaya celetokan saya sendiri dalam melihat fenomena-fenomena yang terjadi. Seperti satu kisah dimana saya justru �berpihak� kepada kaum banci dengan mengatakan bahwa, �Ya, buat saya mereka memang perempuan. Lebih perempuan ketimbang saya yang berjenis kelamin perempuan.� (�aku perempuan�). Dimana tulisan ini mendapat banyak kecaman dari �para pengamat tulisan saya� di lingkungan terdekat saya dengan satu alasan yang tersimpulakan, saya mendukung pelanggaran norma masyarakat.
Dari semua pengalaman, saya mulai untuk menelaah semuanya secara lebih dalam, sedalam yang saya mampu. Dan saya bertemu dengan �jiwa� dan �jiwa-jiwa� lain dalam tulisan saya, yang sebelumbya tidak lebih seperti bercerita dan berpendapat. Lucu juga kalau dibayangkan bagaimana saya menemui �jiwa-jiwa� mitu justru setelah tulisan-tulisan ini jadi. Dan pertemuan ini sangatlah indah dan dahsayt, minimal bagi saya, dan mengantar saya kepada �orgasme intelektual� pertama, setelah sekian lama saya �bersetubuh� dengan banyak hal dalam hidup saya.

Rasa nikmat �orgasme ini menyebabkan saya mengingnkan �orgasme-orgasme lainnya. Tanpa saya sadari jelas di awal, mengapa setiap kali saya menuiskan perbincangan dengan �jiwa� aya seakan-akan sedang menulis suatu kisah persetubuhan. Dari �foreplay� hingga �ejakulasi�. Dan saya sadari inilah �hasrat�. Inilah rasanya �bersetubuh dengan jiwa�. Yang jeas mensyaratkan keterbukaan pikiran dan hati untuk semua kemungkinan yang akan terjadi setelah itu, selain �kenikmatan� itu sendiri, yaitu lahirnya enlightment-enlightment baru yang entah kelak akan mendurhakai saya, atau malah menemani saya terus hingga masa kontrak saya di dunia ini habis.

Ini menjadi satu kebiasaan yang mengadiksi saya. Sulit untuk keluar dari lingkaran yang satu ini. Berhubung saya tidak mau dikategorikan sebagai penulis stensil, dan berhubung saya juga bukan penulis terkenal, saya hanya berani membagiakan tulisan ini keada orang-orang tertentu. Yup, saya memang tidak terlalu percaya diri dalam hal ini. Sampai pada suatu hari seorang sastrawan tik-tak-tik mengatakan �kalau kamu tidak menyebarkan ini. Itu berarti kamu melakukan �onani intelektual��. Duh, benar juga. Di saat saya mengira bahwa saya telah bersetubuh dengan �banyak jiwa� (dalam hal ini saya pelaku free-sex), ada bagian lain dalam diri saya yang sebenarnya sedang �memuaskan diri sendiri dengan memakai tangan sendiri� (terlalu blak-blakan ya? Sori...).

Dan, kali ini, seperti beberapa kali sebelumnya, saya mencoba memberanikan diri untuk bertanya: �maukah kamu juga bersetubuh dengan saya?�

-kelana-

Baca: AIR DI PINGGIRAN SUNGAI (jakarta 2004)


-it�s all about my (sexual) intercourse wth my soul. Both of us are learning lovers. I might write about the (sexual) harrasment next time. If you meet some (sexual) disorientation, well, it fine since both of us have both sexes in times. We are both female and male in times when we need it, when we want it. I love you all, mmmuaaah...-

regards,
niemua