Sadar atau tidak, diakui maupun dimunafikan, berbicara tentang �seks� memang selalu greng karena topik yang berhubungan dengan empat huruf ini hampir selalu dikaitkan dengan pengkategorian gender dan aktifitas pemenuhan kenikmatan fisik. Ada benarnya, karena pengertian dasar dari kata �seks� sendiri adalah jenis kelamin, and that�s all it!
Dalam berkehidupan sosial, seks (atau lebih tepatnya perilaku seksual) pun mendapat suatu perhatian khusus di masyarakat. Dan, seperti biasanya, masyarakat pun mengkonsepkan standar norma dalam hal ini.
Berikut adalah perilaku seksual yang ada di masyarakat dari sisi pandang penulis, antara lain:
1. Perilaku Sex Bebas (free sex), dimana aktifitas seksual dilakukan tanpa mempertimbangkan siapa atau apa partner seksnya. Tidak terikat pada apapun selain kesepakatan atas suka dan suka. Yang lebih pasti adalah aktifitas ini dilakukan di luar lembaga pernikahan. Bahkan, di luar lembaga nurani.
2. Perilaku Sex Aman (save sex), yang muncul karena maraknya penyakit transeksual yang meluas sebagai bagian dari efek negatif dari perilaku sex bebas. Dalam perilaku ini berlaku �anjuran� untuk:
� hanya melakukan hubungan seksual dengan pasangan tetap. Ini dapat berarti ganda, yaitu pasangan yang sudah resmi dalam ikatan pernikahan, atau pasangan yang tidak/ belum resmi dalam ikatan pernikahan. Yang penting tetap!
� bila tidak memiliki sparing partner tetap, jangan berhubungan seks. Ini menciptakan alternatif-alternatif lain yang dinilai lebih �aman�, yaitu:,
o onani dan masturbasi yaitu memuaskan kebutuhan seksual dengan menggunakan tangan atau benda-benda lain, atau bahkan membeli private sexual partner berupa boneka seks, berhubung �membeli� manusia lebih mahal.
o Touching, petting dan lain sebagainya. Ini sebenarnya adalah juga aktifitas seksual tanpa menyertakan penetrasi. Sebagian orang menyatakan bahwa ejakulasi atau orgasme dapat terjadi pula dalam hubungan non-penetrasi ini. Tapi sebagian lagi menyatakan tidak puas, atau malah semakin penasaran.
� bila sudah tidak tahan lagi, pakailah kondom. Alternatif yang paling dipilih. Tetap melakukan hubungan plus penetrasi dengan resiko lebih kecil untuk tertular penyakit transeksual dan, terutama, mencegah kehamilan yang tidak diharapkan.
� Perilaku Seks Cerdas (smart seks), ini tidak saja mempertimbangkan kesiapan secara fisik, tapi juga mental. Pengetahuan akan suatu resiko terburuk dan sudah menyiapkan (tidak saja mengetahui) cara-cara antisipasinya secara fisik dan mental. Misalnya: kerelaan untuk mendapatkan keturunan, melakukan aborsi, masuk dalam rumah khusus perawatan HIV/AIDS, dan lain-lain. Ini juga adalah kelanjutan dari perilaku seks aman.
3. Perilaku Seks Agamis (spiritual seks), walau mungkin dalam urutan terkecil dimana hanya dan hanya melakukan hubungan seksual dengan pasangan (dan/ atau pasangan-pasangan) dalam ikatan pernikahan sebagai bagian dari ibadah menurut keyakinannya masing-masing, tapi masih dapat ditemui. Suatu perkembangan lanjutan dari perilaku seks cerdas dengan pertimbangan agama serta memperkecil resiko dari perilaku seksual sebelumnya.
Masalah utama dari keempat fenomena ini adalah: apakah pasangan seksual kita adalah juga penganut perilaku seksual yang sama? Berhubung terjadinya aktifitas seksual biasanya melibatkan minimal 2 orang (kecuali onani atau masturbasi), berlainan maupun sesama jenis. Bila tidak terjadi kesepahaman dan kesepakatan untuk saling memuaskan diri secara seksual menjadi batal, maka hal ini tidaklah lagi menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah bila salah satu dari partnership ini tidak dapat menerima �penolakan� dan memaksakan kehendak.
Hal ini menimbulkan ide baru dalam pemikiran penulis untuk mengajak para penggagas, pendidik, dan orang tua untuk mempertimbangkan 1 point lagi yang mungkin sedikit dilupakan dalam pendidikan seks secara umum, yaitu �persiapan dan antisipasi terjadinya musibah seksual, baik oleh pribadi itu sendiri, keluarga, dan masyarakat�, selain upaya pencegahan yang secara umum pula juga sudah banyak diajarkan di masyarakat, tentunya.
Mungkin upaya ini bisa diawali (kembali) dengan mensosialisasikan satu pernyataan lama: �kehamilan terjadi karena pertemuan antara sel sperma milik laki-laki dan sel telur milik perempuan�.
-kelana-
Monday, April 24, 2006
SEKS?.. YUMMY..
Posted by
MAWAR RAMBAT
at
6:07 PM
Subscribe to:
Comment Feed (RSS)
|