Tuesday, May 16, 2006

KELANA MEMINTA

Purnama merebak masuk menemui Kelana, membelai sunyi di malam itu. Tampan sempurna dengan selendang putih bersih. Sesekali pernah Kelana melihat Purnama berselendang keemasan, terkala kemerahan. Entahlah, bosan juga kalau hanya mengenakan satu saja piasan warna. Mungkin Purnama juga begitu. Malam itu, Purnama genit memainkan selendang putihnya. Semerta Kelana menadahkan wajah, menatap lama, entah kagum entah terusik.

Hanya diam..

Purnama menyapa..

Hai, Kelana. Mengapa kau sendiri di sini? Biasanya kau sulit kutemui. Kakimu dua tapi langkahmu seribu dua..

Kelana memalingkan wajah. Mencoba sembunyi dari warna Purnama.

Purnama, aku sedang dingin. Kakiku bagai terbenam ke dalam tanah. Aku lupa caranya menatah langkah..

Surai Purnama menggoda..

Ah, pantas saja senyummu tak indah. Apalah Kelana tanpa kaki yang melangkah. Tak mengapa pula kalau kau tak tersenyum menyambutku. Senyumku memang harus yang paling indah..

Duh, Purnama selalu begitu. Apalah arti seribu senyuman bila disandingkan satu milik Purnama. Kelana pun tak mau berlelah untuk melawan takdir. Kelana adalah kelana.
Andai bisa aku pinjam sebentar saja cahayamu itu. Andai bisa aku tampias girangmu malam ini. Sebentar saja..

Tubuh Kelana menggayut mendung.

Ah, Kelana yang bersahabat dengan lelah. Lelah yang serupa nyanyian penghantar tidur bagi Kelana. Hanya itu, tapi tak pernah lengkung pelangi matanya sirna. Kabut mendung semakin menggulung, dan Purnama bertanya..

Mengapa terbit gundah itu? Apa pula yang mampu mencuri langkahmu? Jangan-jangan kau menantang badai dengan api. Kau sih selalu melangkah pergi! Tinggallah sewaktu saja. Setidaknya biarkan ada angin bermain cinta dengan rambutmu yang �aduh- semakin masai. Perjalananmu adalah istana tapaan. Aku tahu. Tapi, mengasolah sekali waktu. Ayolah, mencinta dan bercinta... Tak baik bertapa terlalu lama. Nanti karatan..

Ah, Purnama selalu saja bercanda..

Kelana membatin, satu masa cinta di gunung dan satu lagi masa sayang di lembah dan masa-masa entah dimana. Semua yang ada dan tiada itu tak luput dari sapa langkahnya. Keduanya ia tinggalkan untuk beribu-ribu masa yang menanti kedatangannya.

Sekali waktu pernah Kelana berjumpa dengan Rapuh dan berkata, berikanku cinta. Aku ingin ada mengiringiku berjalan atau yang menungguiku pulang. Aku ingin ada teman berbincang dan berbagi tegukan air. Tapi, Rapuh malah menertawakan Kelana. Sampai ia tiba di simpang samudera kemarin sore..

Oh, Purnama. Justru aku sedang mencinta. Sesaat kemarin aku bertemu dengan Tualang. Dia bagai seumur hidup langkahku, bahkan ribuan masa lagi di hadapanku. Panas dingin aku dibuatnya..

Purnama tertawa. Lonjakannya mengingatkan Kelana pada gemintang hitam di sawah Pak Tani tempo hari.

Ah, Kelana. Ternyata Tualang menyeruak masuk dalam hatimu? Cahayanya pasti telah menyilaukanmu, membuatmu lengah, dan..

Purnama membelalakan matanya. Tergelak... Binarnya menusuk kabut. Kelana mengerjap perih.

Hahaha... Mampuslah kau, Kelana. Kini kau meregang rasa karena kerasukan Tualang. Tak aku sangka kau bisa juga jadi pecundang saat sedang mencinta. Aku kira kau puri berhantu. Ternyata kau ladang luas yang telanjang... Hahaha... Ayolah, Kelana. Bukankah ini yang kau mau? Teman berbagi tegukan air? Ayolah, tertawa bersamaku. Ini waktunya kita bersulang kebahagiaan bersama. Kelana dan Tualang... Nanti aku akan jadi peri pelindung anak-anakmu... Hahaha..

Duh, Purnama yang selalu girang. Kini cahayanya berpendar-pendar tak karuan. Lucukahkah ceritaku barusan? Puaskan tawamu, Purnama. Mungkin aku sedang jadi pelawak, sungut Kelana dalam diam.

Gelak Purnama mulai surut, dan Kelana berujar seakan tak mendengar..

Purnama, Tualang telah menanam benih cinta di hatiku. Mata kerinduannya persemaian abadi. Untuk dirinya di awal, untukku sekarang. Dan, aku terpana, Purnama. Tak kusadari, ternyata aku tinggal melahirkan saja, dan cinta lahir. Padahal hanya sesaat kemarin aku bertemu Tualang..

Purnama terdiam. Mata kerinduan memang indah, Purnama tersenyum. Lebih indah dari hari yang terkantuk-kantuk. Dari selimut malam yang teduh. Dari senyum Purnama sendiri..

Sungguh, awalnya aku hanya ingin mengiring langkahnya pulang. Dia kelelahan bagai panglima baris depan pertempuran. Setiap tapakan ada di kakiku, karena aku Kelana. Seperti setiap taklukan ada di tangannya, karena dia Tualang. Tapi..

Tapi?

Sekarang malah aku yang tersesat. Aku terpuruk dalam pati gundah yang aku sendiri tak pahami mengapa datang kembali. Begitu cepat datang, lebih dahsyat dari badai. Aku bodoh seketika. Semua perjalananku rasanya seperti basi. Aku terjebak dalam liku sudut hatinya.

Kelana merapuh. Penyangga-penyangga tubuhnya lunglai..

Purnama bertanya..

Bukankah itu indah? Tualang telah menanam dan menyemai cinta di hatimu. Telah dibuatnya kau jadi lentera dalam liku hatinya, menerangi setiap sudutnya. Mengapa pula kau biarkan gundah serta? Kau kan tahu dia selalu mengacau. Gundah selalu mencampakkan apapun dihadapannya ke dalam pati untuk dia telan sampai habis.

Kelana mengangkat kepala. Menatap mata Purnama yang bertanya. Mungkinkah aku sejahat itu pada diriku sendiri, Kelana menelusuri hati. Kelelahan..

Duh, Purnama. Gundah berdesiran tanpa pernah kuharapkan kedatangannya. Kalau bisa kuusir pergi, sudah kulakukan dari detik yang kemarin itu. Tapi kulitnya licin bagai belut. Lincah bagai kelinci. Apapun itu, aku tak bisa menangkapnya, apalagi membuangnya.

Purnama penasaran..

Gundah hanya datang bila ada celah, sama seperti kerinduan. Berbagilah denganku, Kelana. Adakah yang belum kau ceritakan padaku? Cinta yang terlanjur lahir itu bercahaya indah di balik kabutmu. Benderang. Kerinduanmu menguatkan pendarannya.

Kelana menunduk lagi, tak mampu menatap mata Purnama yang lekat. Bagaimana caranya aku ceritakan padamu, Purnama. Nilai yang tertoreh di langit itu telah aku abaikan demi warna langitku sendiri, batin Kelana meringis. Sayup Rapuh tertawa sinis.

Kelana membendung sisa-sisa suaranya. Bagaimanapun juga. Lalu, ia berkata..

Ada sabuk indah mengikat dadanya..

Ombak di lautan hati Kelana menderu..

Tapi tiada tiara menghias kepalanya..

Deru ombak di hati Kelana semakin menderas..

Buatku dia bukan raja siapa-siapa..

Deras deru ombak menggulung-gulung..

Dia perlu tiara untuk jadi seorang raja..

Gulungan deras deru ombak terbanting keras di atas pasir..

Kelana melemas menahan gulungan, deras, dan deru ombak di hatinya sendiri. Lalu, mengisak menahan perih hempasan..

Harum Tualang mengiang, membuatnya terdiam sedetik, dan..

Purnama, aku ingin jadi tiara itu, tapi sabuk di dadanya membuat panas hatiku..

Purnama membelai wajah Kelana lembut. Kini dia baru mengerti. Gundah mengajak badai menyampiri lautan hati Kelana yang tak terjamah. Mencoba merebut cinta yang lahir terlalu pagi. Tanpa alas dan lampin..

Kau cemburu..

Kelana menatap Purnama nanar, mencoba bercermin dalam cahaya..

Bukan itu yang mengoyak hatiku. Bara cemburu itu aku kenal betul, Purnama. Aku tak sempat cemburu..

Purnama mengerdip kebingungan.

Bukan cemburu? Adakah cinta tanpa cemburu? Bukankah kecemburuan itu ada untuk menahbis bahwa yang lahir itu adalah Cinta? Apakah karena lahir dini lalu kau tidak ingin menahbisnya? Tapi, bukankah kau sendiri telah menamainya Cinta? Masih perlukah tahbisan? Atau? Ah, kau buat otak kecilku berdenyut, Kelana..

Kelana tersenyum getir. Apa mungkin Purnama yang girang akan mengerti sesuatu yang tak pernah menyinggahinya. Kelana mahfum..

Ah, Purnama. Bila pun ada sempat cemburu, baranya tak akan sanggup membakar. Terurai kelam pedih yang terlanjur dulu, turun lagi bagai salju. Terpaan kerinduan telah meluluhlantahkan benteng lama itu, sampai-sampai aku tidak mengenali penjara yang dahulu menghukumku. Dan, hujan gundah membasahi tumpukan salju, memahat benteng baru. Badai kecewa meniup benteng baru itu menjadi keras. Salju, hujan, badai..

Ketiganya datang dalam satu detik saja yang berlalu. Mengurung pasrahku kini, walau aku sendiri bebas lepas menjajah bumi..

Kelana mencoba mengurai lagi pati. Gagal..

Lagipula, aku tidak bermuluk untuk jadi sabuk di dadanya. Aku tahu tak akan pernah..

Purnama terdiam. Mendengar. Kadang sungai kata Kelana sulit dimengerti. Yang Purnama dengar hanya dawai hati Kelana yang sedang melagukan kebahagiaan yang sedih. Ataukah, kesedihan yang bahagia? Entahlah, Purnama sedang terbengong bingung, menunggu dawai itu mendenting satu nada lagi yang, semoga saja, mampu ia pahami..

Sejenak, dan akhirnya dawai itu mendenting lagi, walau tetap tak terpahami..

Aku ingin jadi tiara di kepalanya..

Purnama sontak bertambah bodoh..

Duh, Kelana, kau tidak sedang berfatamorgana kan? Jangan-jangan kau mabuk! Simpangan samudera telah menggoncang lambungmu, lalu turut pula kepalamu tergoncang! Atau, kepalamu baru terbentur cadas? Cobalah kau ingat-ingat, baru menelan apa saja kau sebelum aku datangi..

Kelana terdiam. Tak salah bila Purnama bingung. Apapun kan terperangah tak mengerti. Kecuali, tiara-tiara itu sendiri. Apapun mereka, dimanapun mereka. Kelana pernah melihat satu dari sekian banyak ukiran tiara dan mencibir. Kini dia menelan cibirannya sendiri..

Purnama berujar lagi..

Teramat sangat mudah bagimu menjadi tiara. Kau tinggal melebur saja, membentuk sedemikian rupa. Tapi kau juga harus rela dicopot kapan saja Tualang bosan pada cahayamu..

Kelana terpekur. Purnama benar. Sabuk di dada adalah pemilik nafas. Sedangkan tiara? Namanya saja hiasan yang menanda, sesungguhnya tak lebih bagai penampung terik. Jangankan bila sudah bosan, mau berangkat ke peraduan pun sudah dicopot. Harus menunggu esok hari lagi untuk melingkar di dahinya..

Hening berselang..

Tapi aku akan bahagia demi satu masa jadi tiara Tualang, Purnama. Seandainya ada padaku yang tak aku kumiliki. Daripada tidak pernah jadi yang dikenakannya sama sekali. Bukankah ini naluri cinta yang terlanjur lahir? Bila tidak pun, sanggupkah aku membunuh semaian Tualang yang paling berharga ini? Tidakkah cinta ini milik Tualang? Aku bukan cacing yang mampu menyemai cinta sendiri..

Purnama tergugah..

Kelana, tak perlu harus ada cinta untuk jadi tiara, sama seperti tak harus ada cinta untuk jadi sabuk pengikat dada. Sungguh, cinta dalam dirimu berpendaran. Kabut tak akan pernah dapat menyembunyikannya. Mendung tak akan mampu membenamkannya. Dan bila yang paling indah itu telah lahir, biarlah kau jadi tiara terindah bagi Tualang, dan bila masa itu usai biarlah kau jadi legenda. Dan semua yang ada akan bercerita tentang satu tiara terindah yang pernah melingkari kepala Tualang. Jadi, katakanlah padaku apapun itu yang tak kau miliki. Akan aku berikan apapun itu asal kau bahagia..

Air mata sulung Kelana jatuh..

Purnama, putihkan satu sayap kesucianku yang kanan. Dan satu lagi sayap kemurnianku yang kiri. Seorang pecinta dahulu mengoyaknya agar dapat membawaku pulang. Seorang pendendam melihat koyakan itu dan mencakar buas. Apakah masih suci kesucianku. Apakah masih murni kemurnianku. Aku seharusnya terbang menuju cakrawala. Tapi kedua sayapku terluka..

-------sela---------

Purnama, luka kedua sayapku itu telah menjadi racun. Racun pedih. Pedih yang menyalju kapan saja tanpa peduli. Kini bersepakat dengan gundah yang basah. Dan, kecewa jadi perekatnya. Mereka pahatkan benteng ketakutan yang dingin. Kepasrahan ikut terpenjara disana. Pasrah kencana bagi cinta. Tiada arti cinta bila tiada pasrah menghantar..

-------sela----------

Purnama, cinta yang lahir dalam hatiku sedang menyusu dalam raga. Berceloteh polos dengan rapuh. Cintaku yang lahir karena cinta kekasihku, Tualang. Menyemai. Cintaku yang lahir untuk cinta kekasihku, Tualang. Menguat. Mengaburkan warna nilai yang tertulis di langit. Aku tiba di puncak gunung tak peduli..

-------sela--------

Purnama, namaku adalah Kelana. Waktuku adalah masa. Tak kumiliki selamanya. Maka, biarlah satu masa saja. Asal ada pernah buaian Tualang dalam pelukanku. Asal ada guratan kenangan Tualang dalam rahasiaku. Asal pernah kubiarkan Tualang memilikiku. Asal..

-------sela--------

Purnama, bila ada pintaku. Aku ingin kedua sayapku pulih. Biar jadi batu berkilauan. Tatahan tiara. Biar jadi daya berkelesatan. Jejakan pulang. Aku ingin tahbiskan dia menjadi raja. Karena hanya dia istana kerinduanku..

-------hening---------

Purnama, putihkan sayapku. Agar menghangat salju. Agar mengering hujan. Agar mereda badai. Aku tak mau tertahan di sini. Duh, aku hanya ingin pasrah. Hanya ingin jadi tiara Tualang. Walau hanya satu masa saja..

-------lebih hening---------

Malam itu, Kelana meringkuk dingin dalam rengkuhan Purnama. Bibirnya beku. Air mata membasahi selendang Purnama yang tersampir lembut di wajah Kelana. Lelah menandangi pelupuk matanya yang semakin terbenam.

Tidur..

Dan, Purnama akhirnya mengerti. Itulah sebabnya Kelana sulit ditemui, karena dia harus melangkah terus tanpa mampu terbang menandangi. Harus melangkah terus tanpa pernah berhenti. Dari satu masa ke ribuan masa. Rupanya Kelana sedang mencari tabib untuk kedua sayapnya yang terluka..

Sedetik berlalu, Kelana menyatu dengan sunyi..

Sedetik lagi berlalu, Purnama bersandar pada sepi..

Sebumi sedetik berlalu..

-----paling hening--------

Alam menggeliat, Purnama berbisik dalam lelap Kelana..

Kelana, tidurlah saja. Terlalu lelah sudah kakimu melangkah. Terlalu lama kau sandang pedih meradang. Tidurlah saja, Tualang pun sebentar lagi kan tiba. Biar dia yang lakukan semua karena hanya dia raja. Hanya dia cinta..

Masih terlalu pagi untukmu..

(Jakarta, 24 Mei 2005: Karena Aku Kelana #1)