Selamat pagi, Amor, mata airku? Masihkah bumi kau basahi? Telahkah embun-embunmu bergegas pergi mengejar hari?
Ah, selamat pagi, Amor, matahariku. Apa guna bumi basah tanpa hangatmu memeluk? Hampir jemu embun menanti sentuhanmu...
Amor, mengapa ada lukisan linangan menjejas? Apakah kiranya rasa yang kau sembunyikan dariku?
Amor, semalaman aku membatin, akankah ada masa kita menyatu? Setiap kali aku bergegas melangkah ke arahmu, langit membungkam hasratku, membentukku jadi gelombang awan, dan menghempasku, menghujan...
Itukah Amor, mata airku yang cantik? Tidakkah kau tahu aku renungkan rasa yang sama? Setiap kulihat jemari lentikmu mengukir lantai bumi, seperti saat ku pandang keterbaringanmu dalam peluh keringat dan aku berujar,Amor sedang jadi lautan lepas, dia kelelahan. Di setiap saat itu, ingin rasanya aku datang menghampirimu, menudungimu, mengusir semua jerihmu, dan menciumi sinar wajahmu..
Wahai, Amor, matahariku nan perkasa. Kerinduan membuatku membumbung tinggi jauh ke atas, kerapuhanku membuatku kembali jatuh berduntaman. Rintik, deras. Apapun itu langit selalu menabikku kembali. Terkadang aku ingin menyerah saja. Hubungan kita terlarang...
Jangan, Amor. Cintamu telah tertulis dalam pelangi. Sejuk saat kerinduan membara. Dan, kau bilang kita tidak dapat bertemu? Tidak dapat menyatu?
Lihat bunga-bunga itu, segala pohon dengan untaian anting dan kalung yang menggantung, semua hewan kecil dan besar itu. Dan, kau kira kita tak pernah menyatu?
Tersenyumlah, Amor. Jangan buat anak-anak kita bersedih pula..
Ah, Amor, manis rayuan yang kau ucapkan. Bagaimana caranya pula aku melahirkan anak-anak kita kalau menyentuhmu saja aku harus mendendam..
Tiap benih cintamu yang kau sembunyikan dari langit telah kusemai dengan benih cintaku diam-diam saat langit lengah. Tataplah lagi semua yang ada di lantai bumi ini, Amor. Anak-anak kita..
Selama ini kau kecupi mereka dengan sejukmu. Kau buai mereka dalam rengkuh embunmu. Ah, Amor, lihatlah sekali lagi. Mereka mewarisi warna mataku, dan manis senyummu. Masihkah kau bilang kita tak menyatu?
Ah, Amor. Kau benar, Matahariku. Ternyata selama ini aku adalah seorang Ibu. Anak-anak kita telah banyak berlahiran..
Ya, Amor, Mata airku. Dan, aku ayah mereka tanpa kecuali. Biarkan saja langit yang ada. Walau menyakitkanmu, menyakitkanku. Tanpanya mungkin cinta kita hanya bening dan tawar..
Salahkah aku pada langit, Amor? Matahariku? Aku hanya air...
Salahkah aku padamu, Amor? Mata airku? Aku hanya api..
Semburatkan lagi geloramu, Amor. Biar tambah parah rindu dendamku padamu. Buatku aku membumbung lagi untuk jatuh berdentam di bumi..
-------sela-------
Gelora Matahari semakin membara, membakar, menyeruak, menelusur. Pasrah Mata air menatah, menari, meringan, membumbung, merintih. Semerta, langit mendengar semua, lalu terburu-buru berlari, mengejar dan ....................
-------sela--------
Matahariku. Amor. Lihat, aku sedang menyusui anak-anak kita..
(Jakarta, 25 Mei 2005: Karena Aku Kelana #2: pagi, mencatat mimpi)
Wednesday, May 17, 2006
PAGI, AMOR..
Posted by
MAWAR RAMBAT
at
6:31 PM
Subscribe to:
Comment Feed (RSS)
|