Wednesday, May 17, 2006

UNTUK TUALANG.. DARI KELANA..

Kasih, aku rindu rasa darimu itu..
Aku rindu lembut sentuhanmu..
Aku rindu manis kecupanmu..
Tapi terlebih demi untuk semua rasa..
Aku rindu indahnya pasrah..
Yang tak pernah ada..

Kasih, aku sedang merinding sendiri..
Keringat dinginku membanjir dalam perapian hasratku..
Mengharapkan kau datang dalam mimpi..
Supaya dapat aku lakukan smua..
Yang tak mampu kulakukan saat terjaga..
Dan bila itu terjadi..
Biarlah aku hanya akan terbangun..
Saat kau terbangun disana..

Kasih, saat dalam pejam mataku itu..
Aku tahu kau sedang kirimkan rasa..
Dan aku merasakan semua rasa..
Rasa yang mencuri semua daya..
Keterjagaanku runtuh..

Kasih, sentuhanmu bagai buaian..
Membuatku bagai bayi yang mengantuk..
Tidur lelap dalam dekapan buah dada hidup..
Dan..
Saat semua indera masih terjaga..
Nyawaku sudah setengah melayang di udara..
Aku tahu apa..
Tanpa aku mengerti mengapa..

Kasih, andai saja saat itu..
Kubiarkan saja raga tertidur..
Supaya jengah tak menahan datangnya deburan..
Yang menyeretku ke tengah lautan lepas..
Menemui batas cakrawala..
Atau..
Sekalian saja raga terbangun..
Supaya kurasa sulurmu..
Menjemput matahari pertama..
Terbit ke langit luas..
Menatang deras panas..

Kasih, semua tak sempat terjadi..
Semua yang bisa terjadi..
Kita abaikan tiang janji..
Tak akan melanggar pagar yang ditentukan langit..
Mungkinkah kita ingkari bumi..
Muasal kita punya raga..

Kasih, pada langit aku meratap..
�Wahai..
Biarkan kuhujani Kekasihku..
Biarkan hujan Kekasihku untukku..
Merintik..�
Langit hanya mendengkur..

Maafkan aku, Kasih..

(Jakarta 2005: Karena Aku Kelana #3)