Thursday, July 27, 2006

Sejarah Mataram - Kotagede

KI AGENG PEMANAHAN -pengelola Mataram (1568-1575)-, yang disebut juga KI AGENG MATARAM III, dahulu adalah Lurah Tamtomo Prajurit Pajang dan mendapat anugerah Tanah Mataram dari Sultan Pajang. Ia diambil menantu oleh Pangeran Sungeb di Saba dan dinikahkan dengan kakak perempuan Pangeran Juru JURU MERTANI di Mataram dan memiliki putera Raden Danang Bagus Subruk, yang kemudian berganti nama menjadi BAGUS DANANGJOYO, dan diganti lagi menjadi NGABEHI SUTAWIJAYA LORING PASAR. Setelah menggantikan ayahandanya di Mataram, atas kehendak Sultan Pajang, ia dinamakan PANGERAN HARYO MATARAM SENOPATI ING NGALOGO, lalu diangkat sebagai Pangeran pada Tahun ALIP 1531. Syahdan,9 tahun kemudian, ia naik tahta dan diberi gelar PANEMBAHAN SENOPATI.

Sebagai pendiri dan raja pertama di Mataram (1575-1601), ia dimakamkan seatap dengan ayahandanya di Astana Kotagede pada tahun 1601. Tampuk pimpinan Kerajaan Mataram kini dipercayakan kepada puteranya yang kesebelas,yakni Raden Mas Jolang.

Menurut tradisi, Mahkota Raja biasanya jatuh pada putera sulung laki-laki dari isteri utama/ Permaisuri. Tetapi dalam prakteknya, seorang raja dapat menentukan lain bila ada pertimbangan-pertimbangan khusus.


Demikianlah Raden Mas Jolang naik ke tahta Kerajaan Mataram sebagai Sultan ke II dengan gelar SUNAN PRABU HANYOKROWATI (1601-1613 M). Sementara itu kakandanya (yang lebih tua), RM. Kentol, sudah agak lama ditugaskan oleh ayahandanya menjadi Adipati Puger di Demak. Kakandanya yang lain, RM. Gatut, juga telah ditugaskan menjadi Adipati Joyorogo di Ponorogo.

Meskipun Panembahan Senopati telah lama meletakkan batu besar kekuasaan Kerajaan Mataram dengan kerja keras tak mengenal waktu, melalui perang-perang fisik untuk mempersatukan daerah-daerah yang dahulunya tunduk pada Kerajaan Pajang, namun daerah-daerah itu belum dapat diandalkan sepenuhnya.

Ketika terjadi pergantian Sultan di Pusat Mataram, daerah-daerah itu memberontak lagi.

Mula-mula yang memberontak justru Demak. Propinsi Demak yang dipimpin oleh Adipati PUGER itu meliputi kabupaten-kabupaten Pati dan Sokawati (daerah Grobogan sampai Blora Selatan). PUGER merasa diperlakukan tidak adil. Mengapa sesudah ayahandanya wafat, Mahkota Mataram tidak diserahkan kepadanya sebagai putera laki-laki tertua? Kenapa justru Mas Jolang yang jauh lebih muda? Hal ini menyebabkan sang kakak tidak sudi seba (menghadap) pada sang adik.

Tentara Pusat Mataram yang kuat, di bawah pimpinan Raden Mas Jolang sendiri, berangkat dari Kotagede menyerbu Demak di Utara. Pada tahun 1602 M, Demak dikepung rapat. Tetapi tentara Demak, di bawah pimpinan Raden Mas Kentol alias Adipati Puger yang perkasa, berhasil memukul mundur Tentara Mataram dalam waktu singkat.

Sunan Prabu Hanyokrowati pulang ke Kotagede dengan menderita kekalahan dan kecewa.

Kini Adipati Puger yang salah ukur -dengan pengalamannya- berhasil memukul mundur tentara Pusat Mataram dari Demak pada tahun 1602. Ini membuat dia menyangka mampu menundukkan Pusat Mataram.

Sebuah Pasukan besar dari Demak segera diberangkat ke selatan menuju Kotagede, dibawah pimpinan Adipati Puger, untuk menundukkan Raden Mas Jolang pada tahun 1603 M. Tetapi baru tiba di dekat Prambanan, Pasukan Pusat Mataram yang besar dalam jumlah telah menghadang dan menghancurkan tentara Demak sampai kocar-kacir. Tentara Mas Jolang ternyata lebih unggul dari pada tentara Puger.

Sekarang giliran Mas Jolang yang menentukan sejarah.

Dengan pengalaman bertempur dua kali melawan tentara pemberontak Demak, Mas Jolang mengetahui di mana kelemahan siasat militer para Prajurit Demak. Dengan perhitungan militer yang cermat, tentara Pusat Mataram, di bawah pimpinan Sultannya sendiri, berangkat ke Utara (Demak) pada tahun 1604 M.


Dalam pertempuran jarak dekat yang dahsyat, Demak sungguh-sungguh dihancurkan. Bukan saja tentara Demak yang morat-marit, prajurit-prajurit berguguran, dan sawah-sawah yang sedang panen pun dibakar. Perkampungan militer dibakar habis. Lumbung-lumbung padi pun ikut terbakar ludes. Pendek kata, Demak kehilangan persediaan makan.

Sejak itu, Demak mengalami kemunduran yang mengerikan. Paceklik datang karena sawah-sawah telah rusak berantakan. Rakyat menderita dan berbondong-bondong mulai mengungsi ke daerah tetangganya.
Adipati Puger ditangkap hidup-hidup, kemudian dijatuhi hukuman pengasingan, dibuang ke Kudus serta hidup sebagai tawanan.

Namun 8 tahun kemudian, daerah-daerah pesisir memberontak. Gresik dan Jaratan di sebelah Utara Surabaya menyatakan berpisah dengan Pusat Mataram karena mereka merasa kuat. Gersik dan Jaratan waktu itu memang mengalami zaman emas. Mencapai kemakmuran yang tinggi berkat perdagangan yang semakin maju. Oleh karena itu, Gersik dan Jaratan membangun tentara lokal yang besar dan kuat. Melihat ini, Mas Jolang tidak menunggu waktu.


Pada tahun 1612 M, sebuah pasukan besar berangkat ke timur, menggempur Gersik dan Jaratan dari daratan. Mataram mendapat kemenangan yang gemilang. Kota Jaratan rusak. Bosah-baseh, hampir rata dengan tanah. Penduduknya yang selamat melarikan diri keluar daerah dan takut kembali. Sejak itu, Kota Jaratan lenyap dari sejarah dan menjadi kota mati.

Tetapi pekerjaan belum selesai. Adipati Kediri menyediakan diri untuk memimpin pemberontakan baru. Kediri menolak kekuasaan Mas Jolang. Adipati Jogorogo (Kakanda Mas Jolang sendiri yang menjadi Adipati Ponorogo) mengikuti Adipati Puger Demak tidak menyukai Mas Jolang. Dia mendukung Adipati Kediri, dengan dukungan itu maka sebuah pasukan gabungan dari Kediri -Kertasana (Wirosobo) dan Ponorogo- dengan puluhan batalion lengkap dengan senjata berangkat menuju ke barat untuk menggempur Ibukota Mataram Kotagede.

Pasukan besar ini memang berhasil meninggalkan batas Jawa Timur untuk menundukkan Pusat Mataram, tetapi berhenti di tengah perjalanan karena dihambat hujan deras (musim penghujan). Wabah penyakit mulai menyerang kemah-kemah prajurit. Sementara itu, rangsum kurang memenuhi kebutuhan. Tentara Jawa Timur ini terpaksa kembali ke asalnya tanpa membawa hasil.

Pada tahun 1602 M, Mataram mempunyai pabrik-pabrik kapal di kota-kota pantai. Pabrik kapal besar di Banjarmasin dan pabrik-pabrik kapal kecil di Lasem, Gersik dan Jaratan.

Sayang sekali, Raden Mas Jolang wafat sebelum mencapai usia panjang sewaktu bercengkerama menghibur diri dan berburu kijang menjangan di hutan Krapyak (hutan tutupan yang ditetapkan oleh raja sebagai tempat perburuan binatang). Mas Jolang mengalami kecelakaan dan gugur pada tahun 1612 M. Jenazahnya segera dibawa pulang ke Keraton Kotagede dan dimakamkan di Astana Makam Kotagede dekat makam ayahandanya, Panembahan Senopati.

Krapyak terletak di selatan Kota Yogyakarta, kurang lebih 1 km dari alun-alun Selatan. Sampai sekarang masih dapat kita jumpai peninggalan bangunan kuno yang tinggi di Krapyak. Tetapi bangunan itu bukan warisan zaman Sunan Prabu Hanyokrowati, melainkan dibuat oleh Sri Paduka Sultan Hamengku Buwono I (Sinuwun Kabanaran atau Gusti Mangkubumi ) sebagai peringatan berdirinya Keraton Yogyakarta pada tahun 1682 Jawa atau 1755 tahun Masehi.


(Jakarta 2006, kiriman dari jangansamakan #2, pake plus)