Apakah fungsi sosial dari komunitas penyair? Apakah jadi yang memakan, dimakan, ataukah termakan? Hubungan apa yang terjadi antara komunitas penyair dengan komunitas sosial lainnya? Dengan koloni yang lebih besar yaitu publik? Apakah simbiosa mutualis, semi mutualis, ataukah parasit? Adakah komunitas yang tak memiliki fungsi (bukannya hilang fungsi, loh). Bila komunitas dianggap sebagai bagian dari kosmik alam sosial maka fungsi, tujuan, visi dan misi tentu saja ada pada inti tema serupa yaitu -dalam hal ini- keseimbangan dalam lingkaran hidup sosial (social circle of life). Ini adalah naluri dasar. Bila penamaan komunitas dianggap mewakili para penghuninya, dalam hal ini adalah para penyair (maaf). Maka definisi ini pun mesti jelas. Bila diumpamakan sebagai rumah, fondasi mestilah kuat. Plus bahan-bahan bangunan pun mestilah saling melengkapi dalam tumbuh kembangnya. Lalu, apa yang mentahbiskan seseorang itu penyair atau tidak? Apa cukup rasa? Waduh, bila dikenakan riset atau uji kelayakan, ini hanya menciptakan bias data karena semua orang dapat berkilah bahwa mereka pun adalah penyair.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah bila komunitas-komunitas ini hanyalah sekadar proyek pengkloningan. Menjebak pada lingkaran cara dan doktrin, tanpa menambah kepekaan akan rasa dan makna. Kenyataannya, setiap orang pun memiliki hak pribadi untuk menjadi kloning siapa pun. Bahkan, bila pun ingin menjadi kloning dari salah satu bagian tubuh si Anu A dan B-nya itu. Toh, pada akhirnya semua orang muak berada di belakang, tempat yang lebih dekat dengan pantat ketimbang muka, yang terkadang keterlepasan kentut pula. Pada akhirnya semua orang hanya ingin jadi manusia yang dirinya sendiri. Indeed, hanya jalan pulang yang diinginkan tanpa menoleh lagi ke hal-hal lain. Menjadi kloning dari yang lain pun bisa jadi bagian dari proses belajar, seperti bayi yang belajar melafalkan suaranya menjadi bahasa yang dapat dipahami, untuk lebih menjadi diri sendiri.
Apa yang mesti dilakukan bila hubungan antara komunitas penyair dengan komunitas sosial lainnya kurang baik? Atau bahkan dianggap semacam tumor dalam tubuh koloni yang bernama publik? Mungkin ini adalah suatu pertanda betapa komunitas penyair telah berhasil, secara signifikan, berfungsi sebagaimana tumor tadi. Hanya menuntut tempat dan memaksa bertambah besar, tanpa mengindahkan tanya: elo lagi ngapain sih disini?
Sebagaimana naluri kepenyairan tadi mulai menggebu-gebu untuk melakukan keseimbangan (ketimbang onani) dan menerbitkannya dalam bentuk buku yang dijual kepada umum untuk dibaca. .. --> A jual --> B beli--> A terima duit--> B baca --> A terima duit lagi-->.. Maka akan sangat baik, menurut saya yang penyiar dan belum penyair, untuk menguji-publikan terlebih dulu karya-karya para penyair tersebut. So, apapun target sukses para penyair (penerbit kita biarkan bobok-bobok siang dulu), entah duit, popularitas nama sendiri, ataupun publik, fokus ada pada deep impact yang dihasilkan dari syair-syair itu atas dinamika yang terjadi dalam circle of life publik. Negatif maupun positifnya, well, apapun itu, alam punya rumus keseimbangan yang sederhana dalam kompleksitasnya. Jadi tak perlu khawatir, komunitas-komunitas penyair tertentu tak perlu sampai bunuh diri bila toh akan ‘mati’ sendiri.
Dari sini saya terilhami akan satu hal: KODE ETIK PENYAIR. Jadi apapun jenis deep impact-nya, entah pemuas dahaga mata, lelucuan, pemburuan identitas, pun pencerahan diri, segala hal yang terjadi setelah itu mestilah jadi tanggung jawab penyair. Kecuali bila tulisan itu hanya untuk sesama penyair yang kira-kira punya arus listrik otak serupa dan kecil kemungkinan tulalit, sebagian. Bayangkan, kalau kita jajan bakso, bayar di muka sebelum boleh duduk, tau-tau baksonya hambar. Walah-walah.. Mungkin perlu juga dipikirkan YLKI di bidang kepenyairan. Akan ada lagi cara ukur, standar ukur, kesahihan data dan sebagainya. Kalau hanya sekadar angka jual, banyak ‘penyair’ yang menang politik bisnis, tapi kapar berdarah-darah dalam politik manusia.
Perlu diingat pula, negeri ini tengah asyik masyuk dengan sinetron-sinetron yang berkelaminkan mimpi-mimpi kosong dan lakon-lakon yang entah dari mana dicomot, dalam bentuk audio visual. Bila ada syair-syair yang hanya menawarkan hal yang sama, maka siaplah menjadi Sang Kalah. Be optimistic.. Setidaknya ada buku yang bias dibeli untuk dijadikan referensi kalimat-kalimat gombal buat merayu si Jablay sebelah. Pun lagi, telah jamak dalam sejarah bahwa para penyair yang sesungguhnya memang lebih sering terlihat ‘kalah’ (luck memang berperan juga rupanya) dengan kondisi politik, sosial, ekonomi negerinya. Oleh sebab itu, jamak pula yang banting stir menjadi corong ‘Halo-halo Bandung’ yang sumbang dan berputar disitu-situ saja bagai anjing yang mengejar ekornya sendiri. Mungkin mereka lupa, kemenangan penyair adalah bila telah menjadi inspirasi bagi publik untuk menjadi masing-masing dari mereka, yaitu manusia. Menjadi penerang akan jalan pulang pada kesejatian manusia. The inner-beauty of a human being..
Akhir kata, semoga para pengasuh komunitas penyair mampu membawa para penghuni rumahnya (sekaligus bertanggung jawab atas rasa kepemilikannya), dan bukannya menjadikan para penghuni rumah sebagai ‘viagra’ atas impotensi kepenyairan mereka sendiri.
PS:
1. Titip salam pada si ‘Original’. Ada satu berarti ada seribu.
2. Silahkan edit, kecuali yang bagian 'pantat', 'kentut', 'onani', 'viagra', 'kelamin', impotensi', 'anjing', 'elo lagi ngapain sih disini'
(Jakarta 2006: Urgently Needed: Dokter Ahli Penyakit Kepenyairan, Bidang Delusional)
dari dinding api
Monday, November 06, 2006
UNTUNG SAYA GAK BICARA SOAL KOMUNITAS SASTRA!
Posted by
MAWAR RAMBAT
at
6:48 PM
Subscribe to:
Comment Feed (RSS)
|