(Copenhagen, 1726-1729)
Dahulu, dalam satu penggalan masa..
Ada seorang putri penanti..
Ratu yang bermahkota kesetiaan..
Bertongkat keteguhan..
Milik raja..
Milik rakyat..
Dahulu dalam penggalan masa
Ada seorang putri penanti..
Dalam kepatuhan..
Menanti sang raja pulang..
Seusai menaklukkan dunia..
Dahulu ada seorang putri penanti..
Semua orang berkata, �sungguh beruntung dia�
�Tahta ada di tangan kanannya
Kemewahan di tangan kirinya
Wajahnya cantik bagai pualam
Sikapnya agung bagai menara lonceng gereja
Langkahnya indah bagai bunga-bunga dalam semilir�
�Duh, sungguh beruntung dia..
Senyumnya mampu meruntuhkah setiap benteng..
Mampu menenggelamkan kapal..
Matanya teduh menyejukkan terik..
Menjinakkan keliaran..�
�Sungguh-sungguh beruntung dia..
Karena dia telah terpilih..
Karena dia yang terbaik dari semua putri..
Lihatlah anggun gemulainya..
Siapakah yang telah mengajari putri itu berjalan?�
Semua terpana, dan berujar
�sungguh, beruntung kita..
memiliki ratu yang bertatahkan bintang..
beralaskan purnama..
berlatarkan matahari..�
sebagian dari mereka cemburu..
dan menyiapkan tombak-tombak api untuk menikamnya..
karena cahayanya..
Dahulu dalam penggalan masa
Ada seorang putri penanti
Malaikat terlahir di dunia, itu namanya
Bidadari penyejuk hati, itu sebutannya
Adakah pernah mereka lupa
Dia seorang manusia
Dahulu
ada seorang putri penanti
Yang selalu mencari tempat menyendiri
Di dekat jendela, di balkon istana, di taman
Asal ada angin semilir membelai tengkuknya
Asal di hadapannya matahari senja menyapa
Lalu ia berkata lirih tanpa mau ada yang mendengar
�Kesetiaanku bagi rakyat karena aku mengasihi mereka, karena aku milik mereka�
�Kesetiaanku pada raja karena aku mengasihi mereka karena aku milik mereka�
�Di pundakku ada nilai dan tanggung jawab..
sebagai ratu rakyatku..
sebagai istri pemilik istana..
raja rakyatku�
�mereka bila aku pemilik jagad, dan keluasan yang tiada tara..
serta semua yang ada di hadapanku..�
�Setiap malam semua berpesta, bergelimang tawa dan canda
Tapi tiada satupun yang mampu membuatku bahagia
Kecuali satu orang yang mampu membuatku tersenyum dengan hatiku
Sosok sederhana dengan kedalaman rasa yang tidak terukur�
Dahulu dalam satu penggalan rasa
Ada seorang putri penanti
Yang memiliki kesukaan baru
Mendengar langkah kaki si pemuda pemain piano menapaki tangga istana
Saat itu pun dia telah siap dengan kalung teristimewanya
Tanda hatinya bahagia
mendengar nada demi nada
yang dipersembahkan hanya untuknya
suatu kali, ia mengamati si pemain piano
Rambutnya yang coklat gelap, ikal, menutupi tengkuknya
Terkadang rambut itu terikat pita merah mungil
Tapi dia lebih suka rambut itu terlepas begitu saja
Pita merah itu hanya akan mengingatkan dirinya pada dirinya sendiri
Renda baju yang menyembul keluar dari setelan jas gelap
Tangan-tangan menghantar jemari
panjang dan indah bermain di atas tuts-tuts piano
Dan suatu kali ia memberanikan diri untuk menatap wajahnya lebih dekat
Dan ia terperangkap pada matanya
Coklat gelap teduh nan indah
Mata yang memandangnya bagai memandang bayi mungil tiada daya
Bagai mengamati ukiran kristal yang rapuh
�Permainan pianomu bagus, teruskanlah itu,� hanya itu yang terucap
Karena hanya itu yang ia boleh katakan
Karena ia sorang ratu..
milik raja..
Esok hari juga seperti itu
dan begitu lagi seperti yang kemarin-kemarin..
Hingga sekian banyak esok terjelang
Dahulu dalam satu penggalan masa
Ada seorang putri penanti
menyadari satu rasa damai yang bertamu
di setiap kedatangan si pemain piano
Kesejukan mengalir di sela tebing-tebing penatnya
Betapa ia ingin mengucapkan kata
Lebih dari sekedar pujian
Betapa ia ingin berbagi
Tentang semua yang ia pikirkan
Tapi sekali lagi hanya ucapan itu yang ia katakan
Hanya bedanya, matanya pun turut berbicara
Dan mata si pemain piano pun turut bersuara
Bicara dan suara dengan bahasa yang sama
Dahulu dalam penggalan masa
Ada seorang putri penanti
Yang berkata dalam hati
�Jangan sampai ada yang tahu,
setiap manusia di dalam istana ini
Setiap manusia di luar sana
Terutama sang raja
Ia akan melampiaskan amarah
dengan melibaskan pedang
ke lebih banyak lagi kepala
Bahkan tirai-tirai istana pun harus menutup telinga
Semua harus berhenti�
Dan semua terhentikan
Dan selang waktu berlalu terbiarkan dalam tanya
Dahulu dalam satu penggalan masa
Sang putri
mendengar kabar buruk..
Bahwa si pemain piano menjadi setengah gila
Ia menghancurkan piano miliknya sendiri
Ia berhenti memainkan Chopin
Ia bahkan membenci suara denting piano
Suara itu membuatnya menangis
hanya berbaring meringkuk dalam kamar
Dengan bibir yang membisikkan nama sang putri seraya bertanya, �mengapa?�
Setelah itu tiada lagi kabar
Dahulu dalam satu penggalan masa
Sang putri kembali
mengadu pada matahari senja dengan bisikan
�Aku mungkin memiliki semua yang diinginkan orang-orang itu
Kecuali satu
hatiku sendiri�
Air mata menetes setelah itu
Titik kepedihan yang tidak pernah berhenti
Selalu tersembunyi..
Dalam satu penggalan masa
Ada seorang putri penanti
�Maafkan aku pemain piano
Aku telah membuatmu bingung
Sungguh dalam hatiku kaulah raja
Hanya bagimu aku ingin menjadi ratu
Betapa aku merindukan kehadiranmu
Betapa permainanmu membuatku melambung
Kaulah nafas terindah bagiku
Bila nanti kita bertemu
Mainkanlah lagi piano itu untukku
Mainkan lagu yang kau cipta untukku
Semuanya
Aku hanya ingin ada di matamu
Dahulu dalam penggalan waktu
Ada seorang putri penanti
Yang menanti sang raja pulang dari taklukannya
Menanti sang pemain piano pulang dari kedukaannya
kesukaannya adalah menatap keluar dari jendela istana
menyapa matahari sore
bertanya
berharap
mengadu
tanpa bibirnya mengucapkan patahan kata
terkadang ia menangis
tanpa sesenggukan yang terdengar
hanya linangan yang jatuh membentuk sungai-sungai kepasrahan dan ketulusan
keteguhan dan kesetiaan
satu alir untuk raja dan rakyatnya
satu lagi untuk pemain piano dan hatinya
dalam lukisan pujangga ia terlihat bahagia
itulah lakon yang setiap hari harus ia mainkan
Agar rakyatnya tenang
dalam penantian sang raja pulang dari taklukan
tapi bila ada tersimpan dalam gores kenangan
seringkali matanya kosong menerawang
menatap hampanya kerinduan
Dahulu dalam satu penggalan rasa
Ada seorang putri penanti
di malam hari ia sering menangis
sang dayang mengira �ratu sedang merindukan sang raja�
�sang ratu sangat mencintai raja dan mengkhawatirkannya�
dan dayang melepaskan jubah kerajaan dan mahkota yang dikenakan putri..
pelan-pelan..
hati-hati..
seperti takut membangunkan singa lapar..
serta keluar diam-diam dan mengumandangkan pada setiap orang yang ditemuinya..
�sungguh besar kesetiaan dan cinta sang putri, ratu kita, pada sang raja�
�sungguh beruntung kita memiliki ratu dengan keindahan seperti dia�
lalu semua bersulang
sungguh ini masa kejayaan kita..
sebagian dari mereka cemburu dan menyiapkan jerat-jerat duri untuk melumpuhkannya..
karena kesetiaannya..
dahulu di satu penggalan masa
ada seorang putri penanti
hingga akhir hayat ia selalu berujar pada matahari sore
tanpa ada seorang pun mendengar
�bila ada bisa aku berjumpa denganmu
maafkan aku yang telah menerbitkan segala rasa yang galau itu
mainkan kembali Chopin
mainkan kembali lagu yang kau persembahkan padaku
bila ada masa aku bertemu denganmu
aku hanya ingin membasuh air matamu
karenaku�
dalam hatinya ia berujar,
�disini aku teguh bersanding dengan rajamu
rajaku juga
karena banyak jiwa
seperti yang kau lihat sekarang
tapi bila hati adalah singgasana hakiki
kaulah raja di hatiku
dan impianku
hanyalah menjadi ratumu
dalam kebebasanku kakiku terantaikan nilai-nilai
terikatkan tugas dan tanggung jawab
aku pasrah
aku ikhlas
karena untuk itulah aku hidup
walau hatiku yang harus aku korbankan
memberi tanpa memiliki..
sedangkan kau adalah pengembara..
mengembara jauh dan bertambah jauh lewat nada-nada yang kau ciptakan..
kau bawa rahasia-demi rahasia jiwa di luar sana..
untuk aku pahami dalam penjara megah ini..
Kau pemilik satu tempat di hatiku..
tempat yang paling rahasia..
dan paling terjaga�
Dahulu di satu penggalan masa
ada seorang putri penanti
�bila waktu berselang
apakah akan kau kenali diriku setelah sekian lama?
Apakah akan aku kenali mata yang aku rindukan?
Karena bibirku bisa menyembunyikan kata-kata..
Dan nafasku mampu menahan gelora..
Tapi mataku..
matamu..
mata kita..
membuka rahasia..
Dan bila kau mengenali mata yang kau rindukan..
Bila aku mengenali dirimu setelah sekian lama..
Mainkanlah sekali lagi denting-denting piano itu untukku..�
Dahulu di satu penggalan masa
Ada seorang putrid penanti
Tertidur dalam rengkuhan kala
-sela-
(Jakarta, 2005-��)
Kini..
dalam satu penggalan masa..
ada seorang putri penanti
Berkata pada si pemuda pemain piano,
�Hai, apa kabar?�
-kelana-
Tuesday, April 25, 2006
Copenhagen 1726-1729_Jakarta 2005-........
Posted by
MAWAR RAMBAT
at
3:15 PM
Subscribe to:
Comment Feed (RSS)
|